Selasa, 19 November 2013

Mak, Aku Pingin Kawin

Balada Si Udin

“Mak, Udin pingin kawin.” Lelaki yang baru lulus kuliah itu menatap serius ke emaknya yang sedang mengulek sambal terasi.

“Apa kau sudah siap, Din?” Tangan kiri emak mengusap matanya yang pedih karena aroma sambal yang menyengat.

“Yah, Emak. Kalau Udin belum siap buat apa Udin bilang ke Emak.”

“Baiklah, apa kau sudah punya calon, Din?”

“Yah, Emak. Kalau udah punya calon ya dari dulu Udin kenalkan ke Emak.”

“Lalu?” Emak masih fokus ke arah cobek.

“Yah, Emak. Carikan dong Mak. Kan emak kenal banyak temen yang punya anak gadis.”

Emak menghentikan ulekannya, kini perhatiannya penuh ke arah udin. Rupanya anakku sungguh-sungguh berniat untuk menikah, pikir emak.

“Baiklah, Din. Sekarang kau pingin kriteria si gadis itu seperti apa? Mungkin emak ketemu dengan anak yang pas dengan seleramu.”

Udin semakin bersemangat, “yang salihah, yang cantik, yang bisa mijitin aku kalo lagi capek, yang bisa masak, yang bisa cuci baju, yang bisa nyetrika, yang bisa bersihkan rumah, yang bisa menguras kamar mandi.” Rupanya banyak betul kriteria yang udin inginkan.

“Itu saja, Din?” Emak membetulkan kerudung yang sedari tadi hampir lepas karena emak terlalu bertenaga mengulek sambal.

“Oh, iya mak, satu lagi, Udin pingin gadis itu pintar buat kopi. Kan Udin doyan banget ama kopi.” Udin merasa lega sudah mengutarakan semua keinginannya kepada Emak.

“Baiklah, Din. Tapi Emak pingin tanya satu hal?” Sorot mata Emak menatap Udin lebih galak dari sebelumnya, Udin yang ditanya mengangguk asal mengangguk. “Kau pingin cari isteri atau pembantu?”

Udin hanya mengupil dan tak berani berkomentar, takut dikutuk jadi batu...

*Isteri ≠ Pembantu*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar