Senin, 18 November 2013

Cerpen Keluarga : Menjemput Janji Kebahagiaan

Menjemput Janji Kebahagiaan

“Orang biasa mungkin bisa mengatakan cinta. Namun, hanya orang yang luar biasa yang dapat membuktikannya...” (Mario Teguh)

Pagi itu, Minggu, 19 Februari. Langit begitu berbeda dari biasanya. Rupa-rupanya awan abu-abu pekat seperti berkonspirasi menghalangi sinar matahari yang menerobos masuk ke jantung kota. Jalanan gelap. Mendung. Membuat pengendara motor di jalan kompak menyalakan lampu kendaraannya.

Para mama melarang anak-anaknya keluar rumah, takut hujan deras serta angin kencang mencelakakan mereka. Yang dilarang justru menggerutu dongkol, padahal mereka sudah mempersiapkan hari libur ini (bahkan saking senangnya menyambut hari ini sampai  ada yang tidak bisa tidur semalaman) dengan bersepeda bersama teman sejawatnya. Anak-anak itu merutuki cuaca yang tak bersahabat ini saat mama mereka memaksa memasukkan sepeda ke dalam rumah. Tak ada cara lain bagi mereka selain berharap semoga cuaca kembali membaik.

Pagi itu, mendung juga menggelanyut di hati Rafli. Di dalam kamarnya saat ini dia hanya bisa menundukkan kepala. Janji kebahagiaan yang selama tiga bulan dia rajut bersama pujaan hatinya harus luruh bagai daun – daun kering yang tersapu angin. Rafli mengangkat kepalanya, kedua bola matanya melirik ponsel yang tergeletak di meja kamar. Tak ada. Tak ada pesan yang masuk. Padahal setiap pagi selalu ada pesan yang masuk di ponselnya, entah berisi motivasi, kata-kata mutiara, atau sekedar menanyakan kabar dari gadis yang dia kenal saat mengikuti seminar pendidikan beberapa bulan yang lalu. Gadis yang membuat dirinya jatuh hati sejak pandangan pertama. gadis yang memberikan gradasi warna yang indah bagi kehidupannya akhir-akhir ini. Sudah selesai, semuanya sudah selesai. Rafli kembali menundukkan kepala.

Adalah telepon semalam yang menjadi penyebabnya. Kemarin, Amira menelepon Rafli memberitahukan bahwa seorang pemuda yang masih terhitung kerabat dengan keluarga Amira, datang ke rumahnya dengan alasan meminta Amira menjadi istrinya.  Pemuda itu merupakan dokter muda. Tubuh kekar, paras tampan, nilai akademik bagus, freshgraduated Pascasarjana Fakultas Kedokteran di salah satu kampus terbaik di Surabaya. Dengan profil yang ciamik seperti itu, tidak ada alasan logis bagi orang tua Amira untuk menolak pinangan tersebut.

Orang tua Amira berharap anak gadisnya itu untuk menerima pinangan si dokter muda. Namun, keputusan akhir tetap mereka serahkan di pundak anaknya. Amira meminta waktu tiga hari untuk memikirkan jawabannya. Dia tidak dapat berbohong bahwa hatinya kini sudah tertambat kepada Rafli. Di seberang telepon, Amira menangis dan mengatakan kepada Rafli bahwa dia hanya punya waktu tiga hari untuk menjawab pinangan tersebut. Walau tidak mengatakannya secara lugas, tetapi Rafli sadar betul bahwa tujuan Amira menelepon dirinya adalah agar Rafli berani datang ke orang tua Amira secepatnya untuk meminang Amira. Ah, jikalau ada alat yang dapat memproyeksikan isi hati Amira saat itu, tentulah akan tertulis di layar : Datanglah segera, akan kuterima apapun dirimu.

Hanya saja Rafli sudah merasa seperti orang yang kalah sebelum berperang. Dengan hanya bekerja sebagai guru privat Bahasa Inggris yang pendapatannya jauh dari kata berlebih, jiwa Rafli dihinggapi keraguan. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana dia dapat mencukupi kebutuhan rumah tangganya dengan hanya mengandalkan pendapatan dari pekerjaan guru honorer ini. Selain itu, Rafli juga pesimis orang tua Amira akan menerimanya setelah ada seorang dokter muda yang datang untuk meminta putri bungsunya itu. Secara materi, Rafli bukan tandingan si dokter muda itu. Lidah Rafli kelu, menutup telepon setelah meminta waktu kepada Amira untuk berfikir sejenak.

Pintu kamar Rafli berbunyi tiga ketukan, Rafli mengangkat kepalanya, lalu bangkit membukakan pintu, matanya yang lesu semburatkan kesedihan yang dia rasakan. Pintu kamar terbuka saat secara bersamaan Rafli menekan dan menarik ganggang pintu yang udah mulai aus itu. Dibalik pintu, Ibunda Rafli berdiri membawakan semangkuk sup ayam panas di tangan kanan dan segelas teh hangat di tangan kirinya. Disapanya Rafli dengan senyum hangat yang sejenak membuat anak sulungnya itu dapat melupakan kegalauan hati.

“Dari semalam kau terlihat lesu. Ada apakah, Nak?” Pertanyaan ibunya membuat Rafli menghentikan suapannya yang kelima, lantas mendongakkan kepala menatap wajah  ibunya.

“Tidak ada apa-apa, Bun.” Kata-kata yang keluar dari mulut Rafli jelas bertentangan dengan apa yang ditujukkan oleh raut mukanya.

“Engkau mempunyai hak untuk tidak menceritakannya kepada bunda. Tapi dari air muka yang kau tunjukkan saat ini, entahlah, tiba-tiba bunda teringat kepada seseorang dua puluh lima tahun yang lalu.” Bibir Ibunda Rafli tersenyum tipis.

“Seseorang itu adalah ayahmu.” Demi mendengar perkataan bundannya, Rafli segera menaruh mangkuk supnya di meja. Menatap penuh makna wajah bunda, merasa penasaran dengan kalimat barusan. Yang ditatap kembali tersenyum melihat anak sulungnya kebingungan.

“Iya, dua puluh lima tahun yang lalu. Ayahmu datang ke rumah bunda, sendiri menggunakan motor bututnya yang baru dia beli dari temannya dengan cara mengangsur selama lima kali.

“Ayahmu berusia 24 tahun saat itu, dia pemuda yang tampan. Banyak perempuan yang menyukai dirinya, namun entah mengapa dia hanya menaruh perhatian kepada bunda. Dengan mantap dia menemui kakekmu, mengutarakan keinginannya untuk memperistri bunda. Lalu apakah engkau tahu apa yang dikatakan kakekmu kepada ayah?” Bunda menatap Rafli dengan sedikit senyum simpul, anak sulungnya menggelengkan kepala.

“Kakekmu menanyakan perihal keluarganya, pendidikan serta apa pekerjaan ayah. Pertanyaan tentang pekerjaanlah yang membuat ayahmu berkeringat. Bunda yang melihatnya dari balik tirai kamar juga merasa kuatir. Saat itu ayahmu hanya seorang pelukis, dan selama ini dia hidup mandiri dengan hasil menjual lukisannya.

 “Sudah barang tentu dia tidak memiliki penghasilan tetap. Kakekmu memberitahu kepadanya bahwa dalam membina keluarga itu dibutuhkan cukup uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Seperti yang bunda katakan, saat itu hanya melukislah yang bisa dilakukan oleh ayahmu.

“Lalu, kakekmu meminta maaf karena lamaran ayahmu kepada bunda belum bisa diterima, sebab ayahmu tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Ayahmu menundukkan kepalanya. Bunda lihat dari balik tirai kamar, air mukanya ketika itu mirip sekali dengan raut yang kau tunjukkan saat ini.” Suara guntur di langit kota semakin keras, titik per titik air hujan mulai meluncur turun, siap menghajar tanah. Rafli mulai tertarik dengan cerita bundanya, yang bercerita juga bersemangat menceritakan kejadian seperempat abad yang lalu itu.

“Apakah kakek tidak suka dengan ayahmu? Tentu saja kakek sangat suka dengannya. Kakekmu tahu betul akan keteguhan hati serta kerja keras ayahmu. Kakekmu hanya menguji mentalnya. Kakekmu yakin bahwa ayahmu tidak akan menyerah begitu saja. Dan benar saja, setelah beberapa saat terbenam dalam kekecewaan, ayahmu menegakkan kepalanya lalu berkata kepada kakek ‘Maaf Pak, benar saat ini saya tidak memiliki pekerjaan tetap dan tidak berpenghasilan tinggi, namun saya berjanji akan bekerja keras untuk membahagiakan Shofia. Saya akan bekerja keras untuk itu, saya berjanji. Saya mencintainya saat pertama kali bertemu dengannya. Dan, dari pertemuan itulah saya yakin Shofia adalah perempuan yang terbaik bagiku dan anak-anakku kelak. Kumohon restuilah hubungan kami.’ Kau tahu Rafli? Ayahmu benar-benar mantap mengungkapkan kalimat tersebut. Demi mendengar kalimat tersebut, saat itu juga hati bunda bergemuruh.” Hujan semakin deras di luar sana. Genting atap rumah semakin gaduh ditimpa jutaan tempias air hujan yang meluncur secara serempak dan simultan.

“Di akhir pertemuan itu, kakekmu tersenyum dan yakin bahwa laki-laki yang sedang di depannyalah yang terbaik untuk mendampingi putri semata wayangnya mengarungi sisa hidup ini. Pinangan ayahmu diterima begitu saja. Raut muka kekecewaan yang sebelumnya tampak pada ayahmu seketika berubah senyuman manis dari bibirnya.

“Dan, sampai saat ini, walau kehidupan kita sederhana, namun bunda selalu bahagia berada disisi ayah. Selama berkeluarga, bunda tidak pernah dikecewakan oleh ayahmu. Ayahmu menepati janjinya, janji untuk selalu menyayangi dan membahagiakan keluarga ini. Menjadikan bunda selalu mencintainya. Mencintainya persis saat pertama kali bertemu.” Bunda menutup ceritanya. Meninggalkan rasa kagum Rafli yang belum habis.

“Oh iya, siapa nama gadis cantik yang membuatmu kusut begini? Pergilah, temui orang tuanya, dan katakan seperti apa yang ayah katakan kepada kakekmu dua puluh lima tahun yang lalu.”  Bunda mengedipkan matanya sambil tersenyum ke Rafli.

Rafli membalas senyuman bundanya, kenapa tak ku coba, pikir Rafli.

Dan, secercah harapan menjemput janji kebahagiaan itu mulai tersibak kembali di hatinya.


Surabaya, 25 Februari 2013
10.00 a.m





Tidak ada komentar:

Posting Komentar