Sendiri
Ada
rasa yang tak biasa yang diisyaratkan alam kepadanya malam hari ini...
Akankah?
Tubuhnya
tergolek lemah di atas lantai. Tak ada kasur empuk sebagai alas, hanya seprei
tipis yang menghalangi kulit keriputnya bersentuhan langsung dengan keramik.
Masuk angin? Dia sudah tak memikirkan atau bahkan sudah lupa apa dan bagaimana
rasanya masuk angin itu. Toh setiap hari dia tubuhnya merasa panas dingin.
Lihatlah
kondisi fisiknya, ternyata yang disebutkan dalam pepatah “Bagaikan kulit
membungkus tulang” itu benar adanya. Badan kurus ceking bagai kayu rapuh yang terseret
arus sungai. Tak ada daging yang sudi menempel di badan tua itu, hingga kau
dapat memegang utuh tulang pahanya hanya dengan satu genggaman tangan kanan.
Kau juga akan dapat melihat tulang rusuknya yang berloncatan berusaha menembus
kulitnya yang kendur.
Wajahnya
tirus, tulang pipinya cekung, membuat bola matanya terlihat ingin melompat
meninggalkan kelopak. Rambutnya memutih, acak-acakan, dia tak ingat kapan
terakhir kali dia keramas, mungkin dua minggu, dua bulan, atau mungkin dua
tahun yang lalu. Dia merasa menggigil hebat jika menyentuh air, seperti ada
ratusan jarum yang menusuk kulit pada setiap tetes air yang keluar dari gayung.
Dia
mencoba menggerakkan tubuhnya. Sulit. Seluruh persendiannya lunglai. Dia bahkan
tak percaya mata rabunnya yang terpejam itu terasa susah untuk di buka.
Semuanya gelap. Sembilan puluh tahun menghirup udara dunia seharusnya dapat
membuatnya tenang dalam menghadapi segala kemungkinan. Namun, entah kenapa saat
ini dia merasakan takut yang teramat sangat. Perempuan tua itu menangis dalam
diam. Percayalah, siapun dia, berapapun umurnya, sepengalaman apapun dirinya,
pasti akan merasa kalut disaat dia merasa mampu membuka mata namun yang
terlihat hanya gulita.
Satu,
dua, tiga menit berlalu...
Tiba-tiba
dia merasa ada seseorang yang membuka pintu. Siapa? Romlah, kau-kah itu? Batinnya bertanya. Hanya dia yang menempati
rumah tua itu. Kelima anaknya tinggal dan beranak pinak di luar kota, dan baru
akan kembali ke kampung ketika lebaran tiba. Dulu, sempat perempuan tua itu
meminta agar bisa berkumpul dengan salah satu anaknya di luar kota, setidaknya
untuk menghabiskan masa senja. Namun, anak-anaknya menyuruhnya tetap tinggal di
kampung, “siapa yang akan menjaga rumah di kampung jika ibu ikut kami di kota?”
anak-anaknya berkeberatan. Baiklah, dia hanya bisa menurut. Sebagai
‘kompensasi’, anak-anaknya akan mencarikan pembantu tidak tetap untuk minimal
memberinya makan setiap hari. Biaya? Mereka bisa patungan. Akhirnya, tibalah
Romlah di rumah ini.
Seperti kesepakatan awal, Romlah hanya
berkewajiban untuk memberi makan dua kali sehari kepada perempuan tua itu.
Romlah datang pukul sembilan pagi dengan membawa sepiring nasi beserta lauk,
meletakkannya di lantai di samping kanan perempuan itu, lalu pulang. Dia akan
datang kembali ke rumah tua itu dengan sepiring nasi, mengambil piring nasi
sisa tadi pagi, meletakkan piring yang baru, lalu pulang. Begitu setiap hari.
Mengajak perempuan tua itu mengobrol? Siapa yang tahan mengobrol dengan wanita
renta yang bau dan rusak pendengaran itu? Yang bahkan anak-anak kandungnya pun
enggan. Lebih baik menyimpan tenaga untuk hal-hal yang lebih berguna, pikir
Romlah.
“Romlah,
kau-kah di sana?” Perempuan tua itu memanggil, berusaha meninggikan volume
suara. Sayang, yang terdengar hanya suara parau tak jelas. Apakah ada barang
milik Romlah yang tertinggal? Bukankah tadi dia sudah menaruh makanan yang
kedua hari ini, batin perempuan itu menggema. Perempuan itu semakin kalut,
berusaha bangkit dari tidurnya, namun tulang-tulang di dalam tubuhnya masih
terlalu lunglai. Dia menyebutkan satu persatu-satu nama anak-anaknya. Rasa
takut yang menjalar disekujur tubuhnya itu membuat dia saat ini sangat rindu
ingin bertemu dengan anak-anaknya.
Rasa
rindukah atau firasat yang lain...
Dan
entah mengapa setelah berhasil membuka kelopak matanya yang sedari tadi sangat
sulit dibuka, sekonyong-konyong kedua
bola matanya menangkap sesosok makhluk tinggi besar, berpakaian serba putih, masuk
melalui pintu yang terbuka. Jelas sekali. Seakan penyakit rabun mata yang
selama ini dideritanya sirna, layaknya
tulisan di atas pasir yang seketika musnah tersapu ombak pantai.
Sosok
tinggi besar itu memiliki struktur rahang yang kuat, alisnya tebal dan runcing,
sorot matanya yang tajam menggentarkan seperti dapat menghabisi musuh hanya
dengan satu tatapan mata. Perempuan itu terhenyak ketika dia dapat mendengar
dengan sangat jelas suara jejak kaki tamu tak diundang itu mendekat kepadanya,
padahal sudah lama indera pendengarannya sudah tak berfungsi sebagaimana
mestinya. Bukan Romlah, ‘dia’ bukan
Romlah, perempuan tua itu membatin.
Benarlah
kata pepatah, bila rasa takut terakumulasi hingga segala kekuatan yang dimiliki
tak mampu membendungnya lagi, maka kepasrahan-lah yang akan menjadi jalan
keluar terbaik. Waktu serasa tak berputar. Angin seperti berhenti bertiup.
Pohon-pohon takzim mengatupkan daunnya. Langit malam semakin pekat. Aroma kematian
tercium dengan sangat nyata. Perempuan tua itu menunduk penuh kepasrahan, dia tahu
siapa yang ada di depannya saat ini, sosok yang pernah dijelaskan oleh guru
mengajinya tempo dulu : Malaikat Izroil.
“Aku
akan menjemputmu.”
“Apakah
aku akan meninggal dengan keadaan yang baik?”
“Semoga
Tuhan mengijinkan.”
“Apakah
aku bisa mengajukan satu permohonan?”
“Katakan.”
Ingatan
perempuan itu seketika terlempar pada masa yang lalu : melahirkan anak pertama,
menyusui, terjaga dari tidur malam lebih awal karena rengekan si bayi, harus
menjual kambing untuk mengganti rugi kaca rumah tetangga yang dipecahkan anak
kedua ketika bermain bola, rela tak makan agar kelima anaknya bisa kenyang saat
paceklik panen, berlari kencang dengan berlinangan air mata di tengah malam
sejauh tiga kilometer menuju puskemas desa saat melihat si bungsu muntah darah,
menjual cincin mas kawin saat secara bersamaan anak ketiga dan keempat masuk
sekolah tingkat atas, akhirnya berhutang kesana-kemari untuk biaya kuliah mereka
hingga lulus. Setelah seluruhnya sudah bekerja dan menikah, mereka memilih
hidup di kota, meninggalkan dirinya yang terkatung-katung sebatang kara di desa.
“Sampaikan
rasa sayangku kepada semua anak-anakku. Sungguh, walau aku sangat ingin bersama
mereka di hari-hari akhirku, namun aku sudah merasa cukup atas kebahagiaan
mereka saat ini.”
Hanya
itu permohonannya.
“Semoga
Tuhan menyayangimu sebagaimana engkau menyayangi mereka.”
Lalu,
Izroil melanjalankan apa yang telah dititahkan oleh Tuhan kepadanya.
***
Perempuan
tua itu, Saidah namanya, ditemukan oleh Romlah dengan jantung yang sudah tak
berdetak pada jum’at pagi. Sendiri.
Senin,
28 Oktober 2013
01.30
am
Tidak ada komentar:
Posting Komentar