Sabtu, 16 November 2013

Cerpen Tentang Ibu

Sendiri

Ada rasa yang tak biasa yang diisyaratkan alam kepadanya malam hari ini...

Akankah?

Tubuhnya tergolek lemah di atas lantai. Tak ada kasur empuk sebagai alas, hanya seprei tipis yang menghalangi kulit keriputnya bersentuhan langsung dengan keramik. Masuk angin? Dia sudah tak memikirkan atau bahkan sudah lupa apa dan bagaimana rasanya masuk angin itu. Toh setiap hari dia tubuhnya merasa panas dingin.

Lihatlah kondisi fisiknya, ternyata yang disebutkan dalam pepatah “Bagaikan kulit membungkus tulang” itu benar adanya. Badan kurus ceking bagai kayu rapuh yang terseret arus sungai. Tak ada daging yang sudi menempel di badan tua itu, hingga kau dapat memegang utuh tulang pahanya hanya dengan satu genggaman tangan kanan. Kau juga akan dapat melihat tulang rusuknya yang berloncatan berusaha menembus kulitnya yang kendur.

Wajahnya tirus, tulang pipinya cekung, membuat bola matanya terlihat ingin melompat meninggalkan kelopak. Rambutnya memutih, acak-acakan, dia tak ingat kapan terakhir kali dia keramas, mungkin dua minggu, dua bulan, atau mungkin dua tahun yang lalu. Dia merasa menggigil hebat jika menyentuh air, seperti ada ratusan jarum yang menusuk kulit pada setiap tetes air yang keluar dari gayung.

Dia mencoba menggerakkan tubuhnya. Sulit. Seluruh persendiannya lunglai. Dia bahkan tak percaya mata rabunnya yang terpejam itu terasa susah untuk di buka. Semuanya gelap. Sembilan puluh tahun menghirup udara dunia seharusnya dapat membuatnya tenang dalam menghadapi segala kemungkinan. Namun, entah kenapa saat ini dia merasakan takut yang teramat sangat. Perempuan tua itu menangis dalam diam. Percayalah, siapun dia, berapapun umurnya, sepengalaman apapun dirinya, pasti akan merasa kalut disaat dia merasa mampu membuka mata namun yang terlihat hanya gulita.

Satu, dua, tiga menit berlalu...

Tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang membuka pintu. Siapa? Romlah, kau-kah itu? Batinnya bertanya. Hanya dia yang menempati rumah tua itu. Kelima anaknya tinggal dan beranak pinak di luar kota, dan baru akan kembali ke kampung ketika lebaran tiba. Dulu, sempat perempuan tua itu meminta agar bisa berkumpul dengan salah satu anaknya di luar kota, setidaknya untuk menghabiskan masa senja. Namun, anak-anaknya menyuruhnya tetap tinggal di kampung, “siapa yang akan menjaga rumah di kampung jika ibu ikut kami di kota?” anak-anaknya berkeberatan. Baiklah, dia hanya bisa menurut. Sebagai ‘kompensasi’, anak-anaknya akan mencarikan pembantu tidak tetap untuk minimal memberinya makan setiap hari. Biaya? Mereka bisa patungan. Akhirnya, tibalah Romlah di rumah ini.

 Seperti kesepakatan awal, Romlah hanya berkewajiban untuk memberi makan dua kali sehari kepada perempuan tua itu. Romlah datang pukul sembilan pagi dengan membawa sepiring nasi beserta lauk, meletakkannya di lantai di samping kanan perempuan itu, lalu pulang. Dia akan datang kembali ke rumah tua itu dengan sepiring nasi, mengambil piring nasi sisa tadi pagi, meletakkan piring yang baru, lalu pulang. Begitu setiap hari. Mengajak perempuan tua itu mengobrol? Siapa yang tahan mengobrol dengan wanita renta yang bau dan rusak pendengaran itu? Yang bahkan anak-anak kandungnya pun enggan. Lebih baik menyimpan tenaga untuk hal-hal yang lebih berguna, pikir Romlah.

“Romlah, kau-kah di sana?” Perempuan tua itu memanggil, berusaha meninggikan volume suara. Sayang, yang terdengar hanya suara parau tak jelas. Apakah ada barang milik Romlah yang tertinggal? Bukankah tadi dia sudah menaruh makanan yang kedua hari ini, batin perempuan itu menggema. Perempuan itu semakin kalut, berusaha bangkit dari tidurnya, namun tulang-tulang di dalam tubuhnya masih terlalu lunglai. Dia menyebutkan satu persatu-satu nama anak-anaknya. Rasa takut yang menjalar disekujur tubuhnya itu membuat dia saat ini sangat rindu ingin bertemu dengan anak-anaknya.

Rasa rindukah atau firasat yang lain...

Dan entah mengapa setelah berhasil membuka kelopak matanya yang sedari tadi sangat sulit dibuka, sekonyong-konyong  kedua bola matanya menangkap sesosok makhluk tinggi besar, berpakaian serba putih, masuk melalui pintu yang terbuka. Jelas sekali. Seakan penyakit rabun mata yang selama ini dideritanya  sirna, layaknya tulisan di atas pasir yang seketika musnah tersapu ombak pantai.

Sosok tinggi besar itu memiliki struktur rahang yang kuat, alisnya tebal dan runcing, sorot matanya yang tajam menggentarkan seperti dapat menghabisi musuh hanya dengan satu tatapan mata. Perempuan itu terhenyak ketika dia dapat mendengar dengan sangat jelas suara jejak kaki tamu tak diundang itu mendekat kepadanya, padahal sudah lama indera pendengarannya sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya. Bukan Romlah, ‘dia’ bukan Romlah, perempuan tua itu membatin.

Benarlah kata pepatah, bila rasa takut terakumulasi hingga segala kekuatan yang dimiliki tak mampu membendungnya lagi, maka kepasrahan-lah yang akan menjadi jalan keluar terbaik. Waktu serasa tak berputar. Angin seperti berhenti bertiup. Pohon-pohon takzim mengatupkan daunnya. Langit malam semakin pekat. Aroma kematian tercium dengan sangat nyata. Perempuan tua itu menunduk penuh kepasrahan, dia tahu siapa yang ada di depannya saat ini, sosok yang pernah dijelaskan oleh guru mengajinya tempo dulu : Malaikat Izroil.

“Aku akan menjemputmu.”

“Apakah aku akan meninggal dengan keadaan yang baik?”

“Semoga Tuhan mengijinkan.”

“Apakah aku bisa mengajukan satu permohonan?”

“Katakan.”

Ingatan perempuan itu seketika terlempar pada masa yang lalu : melahirkan anak pertama, menyusui, terjaga dari tidur malam lebih awal karena rengekan si bayi, harus menjual kambing untuk mengganti rugi kaca rumah tetangga yang dipecahkan anak kedua ketika bermain bola, rela tak makan agar kelima anaknya bisa kenyang saat paceklik panen, berlari kencang dengan berlinangan air mata di tengah malam sejauh tiga kilometer menuju puskemas desa saat melihat si bungsu muntah darah, menjual cincin mas kawin saat secara bersamaan anak ketiga dan keempat masuk sekolah tingkat atas, akhirnya berhutang kesana-kemari untuk biaya kuliah mereka hingga lulus. Setelah seluruhnya sudah bekerja dan menikah, mereka memilih hidup di kota, meninggalkan dirinya yang terkatung-katung sebatang kara di desa.

“Sampaikan rasa sayangku kepada semua anak-anakku. Sungguh, walau aku sangat ingin bersama mereka di hari-hari akhirku, namun aku sudah merasa cukup atas kebahagiaan mereka saat ini.”

            Hanya itu permohonannya.

“Semoga Tuhan menyayangimu sebagaimana engkau menyayangi mereka.”

Lalu, Izroil melanjalankan apa yang telah dititahkan oleh Tuhan kepadanya.

***

Perempuan tua itu, Saidah namanya, ditemukan oleh Romlah dengan jantung yang sudah tak berdetak pada jum’at pagi. Sendiri.


Senin, 28 Oktober 2013
01.30 am






Tidak ada komentar:

Posting Komentar