Selasa, 19 November 2013

Mak, Aku Pingin Kawin

Balada Si Udin

“Mak, Udin pingin kawin.” Lelaki yang baru lulus kuliah itu menatap serius ke emaknya yang sedang mengulek sambal terasi.

“Apa kau sudah siap, Din?” Tangan kiri emak mengusap matanya yang pedih karena aroma sambal yang menyengat.

“Yah, Emak. Kalau Udin belum siap buat apa Udin bilang ke Emak.”

“Baiklah, apa kau sudah punya calon, Din?”

“Yah, Emak. Kalau udah punya calon ya dari dulu Udin kenalkan ke Emak.”

“Lalu?” Emak masih fokus ke arah cobek.

“Yah, Emak. Carikan dong Mak. Kan emak kenal banyak temen yang punya anak gadis.”

Emak menghentikan ulekannya, kini perhatiannya penuh ke arah udin. Rupanya anakku sungguh-sungguh berniat untuk menikah, pikir emak.

“Baiklah, Din. Sekarang kau pingin kriteria si gadis itu seperti apa? Mungkin emak ketemu dengan anak yang pas dengan seleramu.”

Udin semakin bersemangat, “yang salihah, yang cantik, yang bisa mijitin aku kalo lagi capek, yang bisa masak, yang bisa cuci baju, yang bisa nyetrika, yang bisa bersihkan rumah, yang bisa menguras kamar mandi.” Rupanya banyak betul kriteria yang udin inginkan.

“Itu saja, Din?” Emak membetulkan kerudung yang sedari tadi hampir lepas karena emak terlalu bertenaga mengulek sambal.

“Oh, iya mak, satu lagi, Udin pingin gadis itu pintar buat kopi. Kan Udin doyan banget ama kopi.” Udin merasa lega sudah mengutarakan semua keinginannya kepada Emak.

“Baiklah, Din. Tapi Emak pingin tanya satu hal?” Sorot mata Emak menatap Udin lebih galak dari sebelumnya, Udin yang ditanya mengangguk asal mengangguk. “Kau pingin cari isteri atau pembantu?”

Udin hanya mengupil dan tak berani berkomentar, takut dikutuk jadi batu...

*Isteri ≠ Pembantu*

Cerita Gombal

Seorang lelaki mengatakan kepada istrinya yang sedang memasak sup...

"Dek, hari ini kau terlihat sangat cantik. Betapa aku mencintaimu. Sungguh, tanpamu aku sebaik tiada..."

Lalu dengan wajah memerah dan jantung yang berdegup tak karuan, sang istri semakin bersemangat mengaduk sup di panci yang hampir matang itu...

Sang suami berkata kembali:

"Dek, kau sungguh wanita hebat..."

isteri bertanya, pipinya semakin merona " Benarkah? apa buktinya?"

"Kau mengaduk kuah sup yang panas itu langsung dengan kedua tanganmu, dan kau tak merasakan sakit sedikitpun..."


PERHATIAN Gombal dapat menyebabkan orang menjadi hebat seketika...
buktikan!

Puisi Cinta : Denganmu

Denganmu,
Aku mengenal tenteram
Aku tahu apa itu cinta
Aku belajar tentang kesetiaan
Aku selalu muda
Aku pahami arti sebuah tanggung jawab
Aku selalu ingin kembali ke "rumah"
Saling bercerita tentang yang itu-itu saja
Menertawakan hal-hal yang tak begitu lucu
Lalu, kau sandarkan kepalamu di bahuku dan mulai merangkai masa depan

Denganmu aku mengerti rasa cemburu
Denganmu aku dapat curahkan semua sebah di kalbu

Maka, jangan pernah berfikir untuk menjauh dariku...
Sebab denganmu, aku tak perlu malu saat air mata ini jatuh...

Puisi : Persembahan Untuk Kedua Orang Tuaku

Karena sebagian darah mereka mengalir di tubuhku...

Tuhan, jadikan aku penyejuk mata bagi mereka berdua

Tuhan, sukseskanlah aku semuda mungkin agar kudapat membahagiakan mereka

Walau dunia mengolok-olok mereka, aku akan tetap katakan “Mereka orang tuaku”

Walau tak akan mungkin bisa, Tuhan, biarkan aku berusaha menebus segala kebaikannya kepadaku

Tuhan, kumohon ampuni semua salah pada mereka

Tuhan, mohon sayangi mereka seperti kasih sayang yang telah mereka berikan kepadaku

Hingga saat hari akhirnya kelak tiba, mereka tersenyum melihat wajah-wajah kami, seraya berucap: “Tuhan, terimakasih Kau telah titipkan mereka kepada kami.”




Puisi : Padamu

Padamu, mata yang sulit terlelap
Kepadamu, rasa yang lelah 
Buatmu, seseorang yang namanya tak pernah tersebut kecuali dengan amarah
Untukmu, hati yang pedih dirundung sepi 
Wahai engkau yang penat dengan perjalanan ini
Yang keberadaan dirimu hanya menjadi sasaran caci maki
dan ketiadaanmu menjadi bahan gunjingan dan dengki 

Itukah yang membuatmu terlalu ingin berhenti?

Maka, dengarlah sejenak duhai jiwa yang letih
ketahuilah bahwa kau tak sendiri
Ada Dzat yang selalu sayang padamu
Ada cahaya yang selalu menemanimu

sekarang, lentangkan tubuh dan pejamkan matamu
Lalu perlahan ucapkan kalimat ini :
"Tuhan, jika nanti aku terlelap dalam isakku, kumohon saat terbangun nanti Engkau sudi untuk mengangkat penat dari pikiran dan hatiku ini. Tuhan, papah hamba kecil-Mu yang letih ini."

Tidurlah dalam kedamaian

Semoga kau terbangun dengan penuh cahaya di wajahmu..

Hingga esok, engkau tahu bahwa terjawab sudah semua do'a yang kau panjatkan
Hingga esok, engkau tahu bahwa leburlah semua hal yang kau cemaskan
Hingga esok, engkau tahu bahwa kau dicipta tak untuk disia-sia...

Alarm oh Alarm

Terbangun kaget, saat mendengar ponsel berdering kencang di subuh hari...
Kutekan tombol Yes. Siapa sepagi ini menelepon, pikirku.
“Halo, Assalamualaikum...” kataku, sambil mendekatkan ponsel ke telinga kanan. Tak ada jawaban apapun dari seberang sana.
Kutanya lagi dengan mata yang masih mengantuk berat, “Halo, Assalamualaikum...”
Sekali lagi tak ada jawaban. Aku mulai gemas. Aku bangkit dari tidur, siap mengomel. Kulap dulu lelehan air liur yang bertumpahan di pipi. Siapa juga yang godain aku pagi bolong seperti ini? Aku membatin.
Lalu, dengan nyawa yang masih belum genap, sekuat tenaga kucoba membuka kedua kelopak mataku yang masih lengket. Berharap bisa melihat nama penelepon yang tertera di ponselku.
Dan, astaga, betapa malunya aku, saat tahu ternyata bunyi di ponselku itu tanda : ALARM SHOLAT SUBUH.

Pantas salamku tak terjawab L

Senin, 18 November 2013

Puisi Cinta : Satu Kata

Satu Kata

Ketika satu kata yang terucap, menjelma hujan yang basahi gersangnya hati.

Hanya satu kata, namun kau seperti telah memberiku sayap untuk terbangkan harapku menuju Arsy-Nya.

Aku lelah, dan ku tahu kau pun demikian...

Tetapi cuma satu kata yang kubutuhkan,dan itu sudah lebih dari cukup  untuk membuatku lupa akan keterbatasanku.

Maka...

Berilah aku satu kata itu, lalu akan kubuktikan bahwa kau telah memilih orang yang tepat untuk menemanimu melewati sisa perjalanan ini.

Darimu, hanya darimu kutunggu satu kata itu...




Cerpen Keluarga : Menjemput Janji Kebahagiaan

Menjemput Janji Kebahagiaan

“Orang biasa mungkin bisa mengatakan cinta. Namun, hanya orang yang luar biasa yang dapat membuktikannya...” (Mario Teguh)

Pagi itu, Minggu, 19 Februari. Langit begitu berbeda dari biasanya. Rupa-rupanya awan abu-abu pekat seperti berkonspirasi menghalangi sinar matahari yang menerobos masuk ke jantung kota. Jalanan gelap. Mendung. Membuat pengendara motor di jalan kompak menyalakan lampu kendaraannya.

Para mama melarang anak-anaknya keluar rumah, takut hujan deras serta angin kencang mencelakakan mereka. Yang dilarang justru menggerutu dongkol, padahal mereka sudah mempersiapkan hari libur ini (bahkan saking senangnya menyambut hari ini sampai  ada yang tidak bisa tidur semalaman) dengan bersepeda bersama teman sejawatnya. Anak-anak itu merutuki cuaca yang tak bersahabat ini saat mama mereka memaksa memasukkan sepeda ke dalam rumah. Tak ada cara lain bagi mereka selain berharap semoga cuaca kembali membaik.

Pagi itu, mendung juga menggelanyut di hati Rafli. Di dalam kamarnya saat ini dia hanya bisa menundukkan kepala. Janji kebahagiaan yang selama tiga bulan dia rajut bersama pujaan hatinya harus luruh bagai daun – daun kering yang tersapu angin. Rafli mengangkat kepalanya, kedua bola matanya melirik ponsel yang tergeletak di meja kamar. Tak ada. Tak ada pesan yang masuk. Padahal setiap pagi selalu ada pesan yang masuk di ponselnya, entah berisi motivasi, kata-kata mutiara, atau sekedar menanyakan kabar dari gadis yang dia kenal saat mengikuti seminar pendidikan beberapa bulan yang lalu. Gadis yang membuat dirinya jatuh hati sejak pandangan pertama. gadis yang memberikan gradasi warna yang indah bagi kehidupannya akhir-akhir ini. Sudah selesai, semuanya sudah selesai. Rafli kembali menundukkan kepala.

Adalah telepon semalam yang menjadi penyebabnya. Kemarin, Amira menelepon Rafli memberitahukan bahwa seorang pemuda yang masih terhitung kerabat dengan keluarga Amira, datang ke rumahnya dengan alasan meminta Amira menjadi istrinya.  Pemuda itu merupakan dokter muda. Tubuh kekar, paras tampan, nilai akademik bagus, freshgraduated Pascasarjana Fakultas Kedokteran di salah satu kampus terbaik di Surabaya. Dengan profil yang ciamik seperti itu, tidak ada alasan logis bagi orang tua Amira untuk menolak pinangan tersebut.

Orang tua Amira berharap anak gadisnya itu untuk menerima pinangan si dokter muda. Namun, keputusan akhir tetap mereka serahkan di pundak anaknya. Amira meminta waktu tiga hari untuk memikirkan jawabannya. Dia tidak dapat berbohong bahwa hatinya kini sudah tertambat kepada Rafli. Di seberang telepon, Amira menangis dan mengatakan kepada Rafli bahwa dia hanya punya waktu tiga hari untuk menjawab pinangan tersebut. Walau tidak mengatakannya secara lugas, tetapi Rafli sadar betul bahwa tujuan Amira menelepon dirinya adalah agar Rafli berani datang ke orang tua Amira secepatnya untuk meminang Amira. Ah, jikalau ada alat yang dapat memproyeksikan isi hati Amira saat itu, tentulah akan tertulis di layar : Datanglah segera, akan kuterima apapun dirimu.

Hanya saja Rafli sudah merasa seperti orang yang kalah sebelum berperang. Dengan hanya bekerja sebagai guru privat Bahasa Inggris yang pendapatannya jauh dari kata berlebih, jiwa Rafli dihinggapi keraguan. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana dia dapat mencukupi kebutuhan rumah tangganya dengan hanya mengandalkan pendapatan dari pekerjaan guru honorer ini. Selain itu, Rafli juga pesimis orang tua Amira akan menerimanya setelah ada seorang dokter muda yang datang untuk meminta putri bungsunya itu. Secara materi, Rafli bukan tandingan si dokter muda itu. Lidah Rafli kelu, menutup telepon setelah meminta waktu kepada Amira untuk berfikir sejenak.

Pintu kamar Rafli berbunyi tiga ketukan, Rafli mengangkat kepalanya, lalu bangkit membukakan pintu, matanya yang lesu semburatkan kesedihan yang dia rasakan. Pintu kamar terbuka saat secara bersamaan Rafli menekan dan menarik ganggang pintu yang udah mulai aus itu. Dibalik pintu, Ibunda Rafli berdiri membawakan semangkuk sup ayam panas di tangan kanan dan segelas teh hangat di tangan kirinya. Disapanya Rafli dengan senyum hangat yang sejenak membuat anak sulungnya itu dapat melupakan kegalauan hati.

“Dari semalam kau terlihat lesu. Ada apakah, Nak?” Pertanyaan ibunya membuat Rafli menghentikan suapannya yang kelima, lantas mendongakkan kepala menatap wajah  ibunya.

“Tidak ada apa-apa, Bun.” Kata-kata yang keluar dari mulut Rafli jelas bertentangan dengan apa yang ditujukkan oleh raut mukanya.

“Engkau mempunyai hak untuk tidak menceritakannya kepada bunda. Tapi dari air muka yang kau tunjukkan saat ini, entahlah, tiba-tiba bunda teringat kepada seseorang dua puluh lima tahun yang lalu.” Bibir Ibunda Rafli tersenyum tipis.

“Seseorang itu adalah ayahmu.” Demi mendengar perkataan bundannya, Rafli segera menaruh mangkuk supnya di meja. Menatap penuh makna wajah bunda, merasa penasaran dengan kalimat barusan. Yang ditatap kembali tersenyum melihat anak sulungnya kebingungan.

“Iya, dua puluh lima tahun yang lalu. Ayahmu datang ke rumah bunda, sendiri menggunakan motor bututnya yang baru dia beli dari temannya dengan cara mengangsur selama lima kali.

“Ayahmu berusia 24 tahun saat itu, dia pemuda yang tampan. Banyak perempuan yang menyukai dirinya, namun entah mengapa dia hanya menaruh perhatian kepada bunda. Dengan mantap dia menemui kakekmu, mengutarakan keinginannya untuk memperistri bunda. Lalu apakah engkau tahu apa yang dikatakan kakekmu kepada ayah?” Bunda menatap Rafli dengan sedikit senyum simpul, anak sulungnya menggelengkan kepala.

“Kakekmu menanyakan perihal keluarganya, pendidikan serta apa pekerjaan ayah. Pertanyaan tentang pekerjaanlah yang membuat ayahmu berkeringat. Bunda yang melihatnya dari balik tirai kamar juga merasa kuatir. Saat itu ayahmu hanya seorang pelukis, dan selama ini dia hidup mandiri dengan hasil menjual lukisannya.

 “Sudah barang tentu dia tidak memiliki penghasilan tetap. Kakekmu memberitahu kepadanya bahwa dalam membina keluarga itu dibutuhkan cukup uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Seperti yang bunda katakan, saat itu hanya melukislah yang bisa dilakukan oleh ayahmu.

“Lalu, kakekmu meminta maaf karena lamaran ayahmu kepada bunda belum bisa diterima, sebab ayahmu tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Ayahmu menundukkan kepalanya. Bunda lihat dari balik tirai kamar, air mukanya ketika itu mirip sekali dengan raut yang kau tunjukkan saat ini.” Suara guntur di langit kota semakin keras, titik per titik air hujan mulai meluncur turun, siap menghajar tanah. Rafli mulai tertarik dengan cerita bundanya, yang bercerita juga bersemangat menceritakan kejadian seperempat abad yang lalu itu.

“Apakah kakek tidak suka dengan ayahmu? Tentu saja kakek sangat suka dengannya. Kakekmu tahu betul akan keteguhan hati serta kerja keras ayahmu. Kakekmu hanya menguji mentalnya. Kakekmu yakin bahwa ayahmu tidak akan menyerah begitu saja. Dan benar saja, setelah beberapa saat terbenam dalam kekecewaan, ayahmu menegakkan kepalanya lalu berkata kepada kakek ‘Maaf Pak, benar saat ini saya tidak memiliki pekerjaan tetap dan tidak berpenghasilan tinggi, namun saya berjanji akan bekerja keras untuk membahagiakan Shofia. Saya akan bekerja keras untuk itu, saya berjanji. Saya mencintainya saat pertama kali bertemu dengannya. Dan, dari pertemuan itulah saya yakin Shofia adalah perempuan yang terbaik bagiku dan anak-anakku kelak. Kumohon restuilah hubungan kami.’ Kau tahu Rafli? Ayahmu benar-benar mantap mengungkapkan kalimat tersebut. Demi mendengar kalimat tersebut, saat itu juga hati bunda bergemuruh.” Hujan semakin deras di luar sana. Genting atap rumah semakin gaduh ditimpa jutaan tempias air hujan yang meluncur secara serempak dan simultan.

“Di akhir pertemuan itu, kakekmu tersenyum dan yakin bahwa laki-laki yang sedang di depannyalah yang terbaik untuk mendampingi putri semata wayangnya mengarungi sisa hidup ini. Pinangan ayahmu diterima begitu saja. Raut muka kekecewaan yang sebelumnya tampak pada ayahmu seketika berubah senyuman manis dari bibirnya.

“Dan, sampai saat ini, walau kehidupan kita sederhana, namun bunda selalu bahagia berada disisi ayah. Selama berkeluarga, bunda tidak pernah dikecewakan oleh ayahmu. Ayahmu menepati janjinya, janji untuk selalu menyayangi dan membahagiakan keluarga ini. Menjadikan bunda selalu mencintainya. Mencintainya persis saat pertama kali bertemu.” Bunda menutup ceritanya. Meninggalkan rasa kagum Rafli yang belum habis.

“Oh iya, siapa nama gadis cantik yang membuatmu kusut begini? Pergilah, temui orang tuanya, dan katakan seperti apa yang ayah katakan kepada kakekmu dua puluh lima tahun yang lalu.”  Bunda mengedipkan matanya sambil tersenyum ke Rafli.

Rafli membalas senyuman bundanya, kenapa tak ku coba, pikir Rafli.

Dan, secercah harapan menjemput janji kebahagiaan itu mulai tersibak kembali di hatinya.


Surabaya, 25 Februari 2013
10.00 a.m





Sabtu, 16 November 2013

Cerpen Putih Abu-Abu : Cinta, Kau Dapat Ubah Segalanya

Cinta : Kau Dapat Ubah Segalanya

Namanya Mia. Dia duduk di kelas sepuluh saat aku siap-siap menghadapi Ujian Akhir Nasional Sekolah Menengah Atas.  Dia terlihat sangat manis dengan jilbab yang menjuntai. Entah mengapa sejak pertama bertemu di perpustakaan tempo lalu, aku selalu memikirkannya. Rasa-rasanya, aku telah menaruh hati kepadanya.

 Namun, ada masalah yang membuatku sulit untuk mengenalnya lebih dekat.  Mia populer di sekolah, selain parasnya yang menawan, prestasi akademiknya pun mantab. Dia juara kelas. Itulah yang membuat banyak teman-teman pria bahkan kakak kelas saling berebut cari muka kepada Mia, berharap ada perhatian lebih yang mereka dapatkan dari gadis yang satu ini.

Sedangkan aku? Aku hanya seorang lelaki berumur delapan belas tahun berkacamata agak tebal. Seorang yang setiap harinya berpakaian rapi dengan ujung baju dimasukkan dalam celana bersabuk, rambut tersisir mulus ke samping dengan balutan minyak yang kelemis. Bagi kebanyakan gadis, aku bukan tipe lelaki impian untuk diajak jalan. Aku terkesan keluar dari pergaulan kebanyakan remaja lainnya. Membaca buku saat pelajaran kosong, pergi ke kantin sejenak lalu meluncur ke perpustakaan untuk menghabiskan jam istirahat menjadi rutinitas harianku di sekolah.

 Aku juga tipe orang yang kurang percaya diri. Sebenarnya, sejak kelas lima sekolah dasar, aku bercita-cita sebagai seorang penulis. Aku suka menulis cerita pendek di buku kecilku yang selalu kukantongi di saku baju sekolah. Sudah ada beberapa cerita pendek sudah kubuat, namun aku tak pernah berani untuk mengirimkan tulisanku setidaknya ke redaksi sekolah untuk diterbitkan. Aku terlalu rendah diri, menganggap semua tulisanku buruk dan tidak layak terbit, bahkan bila perlu aku harus mengubur dalam-dalam impianku sebagai penulis.

 Hingga suatu ketika gadis manis itu datang dan  memercikkan api keberanian dalam diriku.

“Apakah aku boleh duduk di sini?” Dia berdiri di sampingku dengan membawa sepiring nasi goreng  di tangan kanan dan segelas es kopyor di tangan kiri. Aku yang akan memasukkan suapan ke empat nasi pecel ke dalam mulutku, menolehkan kepala. Dan, betapa tertegunnya diriku saat ku tahu kalau Mia-lah pemilik suara itu. Ya Tuhan, dia gadis yang selama ini ada dalam pikiranku, tiba-tiba berada persis di depan mata. Untuk beberapa saat aku seperti orang yang terkena totok, tak bisa melakukan apa-apa, persendianku lunglai, jantungku berdegup lebih kencang, bibirku kelu.

“Maaf, apakah aku boleh duduk di sini? Soalnya semua bangku sudah penuh.” Mia kembali bertanya, aku yang ditanya gelagapan.

“Emm, jika ingin duduk,  ijin ibu kantin saja.” Dalam gugup aku berusaha bercanda mencairkan suasana hatiku yang kikuk. Tapi, oh Tuhan, apa yang baru saja kukatakan? Aku baru sadar kalau aku adalah tipe orang yang memiliki selera humor yang sangat kacau.

“Oh, memangnya harus ijin ibu kantin terlebih dahulu ya? Baiklah.” Diluar dugaan, Mia benar-benar mengikuti saran bodohku ini. Mia melangkah pergi ke arah ibu kantin setelah meletakkan piring nasi goreng dan segelas es kopyornya di atas meja. Lalu kulihat Mia berbisik-bisik dengan ibu kantin sambil menunjuk bangku di sebelahku dengan jari telunjuk kanannya. Ibu kantin mengangguk sembari tersenyum. Mia melangkah kepadaku, untuk beberapa saat aku lagi-lagi seperti orang yang terkena totok. Diam.

“Aku sudah ijin ke ibu kantin untuk duduk di bangku ini, dan beliau mengijinkan.” Mia tersenyum simpul melihatku. Aku yang dilihat menundukkan kepala. Malu. Selera humorku memang buruk. Mia memulai suapan pertamanya, aku meliriknya sekilas, astaga dia terlihat sangat cantik dan cara makannya anggun. Berada sedekat ini dengan Mia adalah kejadian langka dan sulit untuk terulang kembali. Maka kukumpulkan segenap keberanianku untuk berbincang-bincang dengannya.

“Emm, Mia...” Aku meremas-remas jariku yang basah oleh keringat.

“Iya? Kamu tau namaku? Apakah kita pernah kenal sebelumnya?” Mia menghentikan suapan ketiganya, menatapku penuh selidik. Mia benar, kita belum saling kenal. Selama ini, hanya aku yang mencari tahu tentang Mia, rumahnya, tanggal lahirnya sampai makanan kesukaannya. Tapi dia kan belum kenal aku? Aku merutuki diriku dalam hati, menyesali perkataanku barusan. Aku seperti berkelahi dengan waktu, pikiranku berputar-putar dengan cepat mencari jawaban yang logis. Jangan sampai Mia tahu kalau selama ini diam-diam aku mencari tahu tentang dirinya.

“Emm, emm, aku tahu namamu dari badge di bajumu.” Aku menyeka peluh di dahi.

“Oh, iya. Ada apakah? Tadi sepertinya mau menyampaikan sesuatu kepadaku?” Mia sempurna menghadapkan wajah cantiknya kepadaku, membuat persendianku kembali lunglai. Bibirku kembali kelu. Tapi aku harus mengatakan sesuatu kepadanya.

“Emm, nasi gorengnya enak?” Hanya itu yang dapat kukatakan kepadanya

***

Jam sekolah usai bersamaan dengan bunyi bel yang berdering tiga kali di luar kelas. Aku memasukkan buku pelajaran ke dalam tas. Kurapikan baju dan kacamataku, lalu berdiri melangkah ke luar kelas. Namun, tiba-tiba kulihat Mia berdiri di samping pintu kelasku.

“Sepertinya ini milikmu. Aku menemukan ini di bangku kantin, tadi.” Tangan Mia menyodorkan buku kecil milikku yang biasa kubuat untuk menulis cerita pendek. Aku raih buku kecilku, lalu ku ucapkan terimakasih kepadanya.  

“Oh, iya. Kumpulan cerita pendekmu bagus-bagus. Kenapa tidak dikirimkan saja tulisan –tulisan itu ke buletin sekolah.” Mia berbicara di depanku, aku mengangkat pandangan, mengernyitkan dahi, bingung. Benarkah tulisanku bagus?

“Iya, maaf, tadi tidak sengaja aku membaca beberapa tulisanmu. Ternyata ceritanya bagus-bagus, aku tidak menyangka kalau ada laki-laki yang bisa menulis cerita sebagus itu. Menurutku tulisanmu layak diterbitkan.” Mia membetulkan ujung jilbabnya, sejenak menghiraukan diriku yang kaku dalam sanjungan.

“Oh, iya, aku senang sudah menjadi orang pertama yang membaca tulisan-tulisanmu.” Mia tersenyum kepadaku. Takut pipiku semakin terlihat memerah, aku membetulkan kacamata, lalu pergi setelah ku ucapkan terimakasih untuk yang kedua kali kepadanya.

Wahai, apakah kalian pernah mendengar bahwa cinta dapat merubah segalanya?  Cinta dapat merubah yang kikir menjadi dermawan, yang kasar menjadi halus, dan yang lemah menjadi kuat. Aku telah merasakannya. Setelah pertemuanku dengan Mia di depan pintu kelas itu, dan dia mengatakan bahwa tulisanku bagus, seketika itu pulalah aku dapat memupuskan rasa minder yang terjaring akut di dalam tubuhku, lalu menggantinya dengan percikan percaya diri untuk menggapai cita-citaku menjadi penulis.

Besoknya, aku beranikan diri untuk mengirimkan beberapa tulisanku ke redaksi jurnalis sekolah. Perasaan luar biasa bahagia memancar dari dalam hatiku saat dua minggu kemudian tulisanku di terbitkan di buletin sekolah. Sejak saat itulah sejarah kepenulisanku dimulai. Setelah lulus sekolah, aku mencoba menulis beberapa cerita untuk diterbitkan menjadi buku, kemudian setahun setelah terbit, beberapa novelku menjadi best seller dipasaran. Dan, akhir-akhir ini aku sering diundang di berbagai seminar kepenulisan.

Sayangnya, aku tidak bisa menunjukkan keberhasilanku secara langsung kepada Mia. Sebab dua bulan sebelum aku menghadapi ujian akhir, Mia pindah sekolah ke luar pulau, ikut orang tua yang dipindahtugaskan oleh kantor tempat ayahnya bekerja. Kepergiannya yang mendadak, membuatku tidak bisa mengantarkannya pergi walau hanya sekedar mengucap selamat tinggal. Sampai saat ini aku benar – benar kehilangan kontak dengannya. Tapi dimanapun dia berada, aku ingin berterimakasih kepadanya, sebab berkat dialah aku termotivasi untuk bisa menggenggam cita-cita ini.


Surabaya, 07 Maret 2013
11.00 pm

















Cerpen Keluarga : Ayah


Cara Tuhan Mendidik

Surabaya, Pukul 17.15 wib

Ufuk timur membiru gelap saat matahari mulai condong dan hampir tenggelam ke bagian barat. Suasana jalan raya mulai berubah. Motor, becak, truk, mobil, serta angkot memadati jalan hingga tak ada kesempatan sedikitpun untuk menambah kecepatan bagi pengemudi. Andai saja saat ini ada yang melihat pemandangan jalanan dari ketinggian, maka barisan kendaraan – kendaraan ini akan terlihat seperti ular sedang merambat pelan. Suara bising dari knalpot kendaraan menjadi – jadi, suara klakson saling bersautan melukiskan betapa tak sabarannya pengemudi kendaraan tersebut. Satu suara klakson dibalas dengan dua pencetan, dua dibalas tiga, dan seterusnya. Bisa dibayangkan betapa ramainya senja di jalan raya ini. Belum lagi asap yang ditimbulkan membuat satu dua orang mulai menahan nafas, menutupi hidung.

Aku berjalan santai di trotoar, menenteng tas berisi baju basah bekas renang tadi pagi. Ingin rasanya aku segera sampai rumah untuk melepaskan lelah karena seharian tadi aku berenang di waterpark, apalagi aku belum makan nasi sama sekali. Sebelum berangkat tadi pagi, perutku hanya kuisi dengan satu bungkus mie goreng dan satu tahu isi. Rasanya energi yang dihasilkan dari makanan tersebut langsung menguap saat seharian kugunakan tubuh ini berenang di kolam. Aku memang sangat suka berenang. Apalagi tadi aku berenang bersama banyak teman, bermain voli air, lomba menahan nafas paling lama di dalam air, dan berseluncur membuat waktu seakan lebih cepat bergulir, rasa lapar pun juga tak seberapa terasa.

Lima ratus meter lagi aku akan memasuki gang rumahku, perut yang keroncongan ini seakan memaksaku untuk mempercepat langkah kaki agar segera sampai rumah. Bayangan makanan di dapur menggelanyut liar dipikiranku. Sekarang tinggal melewati lima rumah lagi aku akan sampai. Dua rumah. Satu rumah. Sampai.

Kuturunkan tas berisi baju basah yang kutenteng sedari tadi sembari mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Ayah dan Ibuku pasti ada di dalam. Dan, ternyata benar. Seorang berusia empat puluh tahun yang memengenakan peci menutupi rambutnya sedang membukakan pintu. Saat pintu terbuka, aku tersenyum melihat Ayah yang berdiri tegak di depanku. Namun, ada yang berbeda dari raut mukanya. Aku mulai mengingat – ingat apa kesalahan yang telah kuperbuat. Ayahku memang seorang yang pemarah dan sangat emosional. Jarang sekali aku melihat sunggingan dari bibirnya. Tapi kegarangan yang sedang ditunjukkan lewat raut mukanya ini membuatku yakin ada sesuatu yang tidak beres. Kutepis prasangkaku dan langsung mencoba meraih tangan kanannya untuk kucium.

            PLAK…

            Pipi kiriku ku tertampar oleh tangan kanannya.

            PLAK…

            Kali ini tangan itu mendarat persis di hidungku. Aku kesakitan, menangis, meronta serta berteriak mencari alasan mengapa tiba – tiba Ayah membabi - buta memukuliku. Orang – orang yang lewat di depan rumahku menoleh memandangi kami dengan tatapan miris, namun hal tersebut tak dihiraukan oleh Ayah. Dipeganginya tanganku agar aku tak bisa lari. Setelah tamparan yang kedua, aku merasa ada yang mengalir melalui kedua lubang hidungku. Kusentuh bagian atas bibir dengan ujung jari, mencoba memastikan apa yang keluar dari hidungku. Darah. Belum habis keterkejutanku akan darah yang keluar dari lubang hidung, tiba-tiba untuk yang kesekian kali tangan Ayah menghajar mukaku dengan telak.

            PLAK…

            Pukulan terakhir lebih keras dari yang sebelummnya. Kali ini seluruh anggota tubuhku lemas dan sulit digerakkan. Tangisanku yang semula keras mulai melemah.  Mungkin rasa lapar yang kurasakan sedari tadi semakin membuatku lunglai. Tiba – tiba saja pandanganku menjadi samar, semakin samar dan gelap seketika.

***

“Anak ini terlalu banyak mengeluarkan darah, Pak.” Dokter laki - laki berusia lima puluh tahunan itu berucap pelan sesaat setelah memeriksa tubuh kecil Rafif yang masih tak sadarkan diri. “Anak Bapak harus segera ditransfusi darah, kondisi tubuhnya sangat lemah, sepertinya dia tidak makan dari pagi.” Persendian Ayah Rafif lunglai mendengar ucapan dokter paruh baya tersebut.

“Lakukan, Dok. Silahkan ditransfusi asal anak saya selamat.” Ayah Rafif berkata dengan suara tegas walau tak dapat dipungkiri rasa penyesalan tergambar jelas di raut mukanya.

Usia Rafif sembilan tahun saat kejadian Ayahnya memukulinya hingga dia harus dilarikan ke rumah sakit. Saat itu Ayah Rafif sangat panik karena pagi hingga menjelang malam anak tunggalnya itu tidak berada di rumah. Pagi itu Rafif pergi berenang bersama teman – teman sepermainan. Takut tak diijinkan, Rafif memutuskan untuk tidak pamit terlebih dahulu. Pagi saat Ayahnya pergi berolahraga sedang Ibunya masih di pasar, Rafif nyelonong pergi dengan tas dan baju ganti serta uang lima belas ribu hasil menabung selama satu bulan untuk biaya masuk kolam. Agar tak membuang waktu, batinnya, Rafif memilih sarapan mie di rumah salah satu temannya, berharap dia dapat keluar rumah sebelum Ayah dan Ibunya pulang.

Sampai siang hari Rafif masih tak nampak keberadaannya di rumah. Padahal walaupun hari libur, Rafif selalu berada di rumah jika dhuhur tiba. Ayahnya selalu membiasakan Rafif agar tidak keluar saat siang hari dan mulai memperbolehkannya bermain ba’da sholat ashar. “Agar tidak cepat sakit,” begitu jawaban Ayahnya ketika Rafif bertanya mengapa dia selalu tak diperbolehkan keluar siang hari.

Sore tiba, dan Rafif masih tak ada di rumah, Ayahnya mulai waswas, bertanya kepada Isterinya apakah Rafif berpamitan kepadanya sebelum meninggalkan rumah? Isterinya hanya menggeleng pelan, “Mungkin dia main di rumah temannya, Kak.” Ibu Rafif mulai mencari alasan yang tepat agar suaminya tak marah. Rafif adalah anak satu – satunya yang dimiliki oleh kedua orangtuannya, jadi sangat wajar jikalau mereka sangat khawatir dengan keadaannya.

Menjelang maghrib, sosok Rafif  masih belum nampak. Sebenarnya Ayah Rafif belum puas ketika isterinya bilang bahwa mungkin anaknya sedang main di rumah teman. Sebab tak biasanya Rafif bermain ke rumah teman dan pulang hingga larut. Karena itulah setelah sholat ashar, lelaki itu mencari anaknya di rumah teman – teman sekolah Rafif seperti Arif dan Riski yang kebetulan saat itu tidak sedang ikut berenang. Tak menemukan Rafif di sana, membuat Ayah Rafif semakin panik dan kepanikan itulah yang membuat dirinya mulai tak sabaran. Takut terjadi hal – hal yang tidak diinginkan menimpa anak semata wayangnya itu.

Kesabaran Ayah Rafif habis saat maghrib tiba. Isterinya berusaha menenangkan sang suami agar lebih bersabar, “sabar bagaimana, Bu? Rafif tidak pulang dari pagi dan Ibu bisa tenang?” Intonasi suara Ayah Rafif mulai meninggi, “kalau sampai lepas Maghrib Rafif tidak pulang, kakak akan lapor ke kantor polisi.” Isterinya hanya mendesah pelan. Jika Ibu Rafif ingin jujur, sebenarnya dia juga khawatir, mungkin lebih khawatir daripada kekhawatiran suaminya. Namun, karena takut suaminya semakin marah dan panik, maka perempuan itu mencoba menahan gejolak hatinya yang sedang bergemuruh menanti kedatangan anak laki-lakinya itu.

Dan, Rafif datang pada waktu yang sangat tidak tepat. Emosi Ayahnya berada dipuncak ubun-ubun. Sial, ketika itu Ibunya masih di dapur menyiapkan makasan untuk makan malam, jadi tak ada pembela saat Rafif menjadi bulan – bulanan Ayahnya. Hingga saat Rafif menampakkan batang hidung, tanpa berpikir dua kali Ayah menghajarnya. Sesuatu yang harus dibayar lunas karena satu hal : tidak ijin.

“Pak, ternyata tulang hidung anak Bapak patah dan harus segera dioperasi.” Suara lemah dokter paruh baya memenuhi ruang kosong di depan ruangan Rafif dirawat. Yang diajak bicara semakin khawatir dengan kondisi anaknya. “Apa? Tulang hidungnya patah?” Lelaki itu tak percaya bahwa pukulan ketiganya yang mendarat telak pada wajah Rafif membuat tulang hidung anaknya patah. Perempuan yang berada disampingnya menutupi mulut dengan kedua telapak tangan, tidak percaya, seraya menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh tanya : sekeras itukah kau menampar Rafif?

            “Operasi dok, lakukan apa saja agar anak saya dapat kembali normal.” Volume suara Ayah Rafif meninggi, menunjukkan bahwa dia sangat khawatir dengan keadaan anak lelakinya.  

            “Akan saya usahakan, Pak. Berdo’alah, semoga Tuhan memberikan yang terbaik.” Kalimat dokter itu berusaha menenangkan emosi Ayah Rafif yang mulai tak terkontrol.

***

Persis di lorong depan ruang operasi, sepasang sejoli itu sedang duduk di kursi panjang dengan kepala menunduk. Tanpa suara. Hening. Desah nafas dan tak tik tok bunyi detik jam dinding terdengar cukup keras dan menggema. Perempuan itu sedari tadi memang tak mau bicara, demikianlah sikap Ibu Rafif jika sedang “menghukum” suaminya ketika berbuat kesalahan.

Ayah Rafif yang sedari tadi diacuhkan, mencoba menatap wajah isterinya yang masih terlihat kecewa dengan sikapnya yang membabi – buta memukuli anak tunggal mereka. Lelaki itu berusaha memecah keheningan.

“Kakak minta maaf…” Kalimat pertama Ayah Rafif itu  akhirnya muncul setelah setengah jam hanya terduduk ditikam kesunyian. Namun, lagi – lagi isterinya hanya diam tak menghiraukan.

“Sungguh Kakak menyesal…” Kalimat kedua lelaki itu meluncur dari bibirnya. Kali ini sang isteri mengangkat wajahnya ke langit – langit lorong dengan mata berkaca-kaca.

“Kumohon jangan kau hukum aku seperti ini, Dinda…”Ayah Rafif menggenggam tangan kanan isterinya yang masih tergugu, mengisyaratkan agar isterinya sudi menanggapi walau hanya sekedar menoleh kepadanya.

“Harusnya kau tak memukul Rafif terlalu keras, Kak.” Akhirnya perempuan itu memaksakan berbicara kepada suaminya, sambil bersiap mengusap airmatanya yang menggenang di pelupuk mata dengan ujung jilbab biru yang dikenakannya.

Lorong ruang operasi sunyi kembali, satu dua suster berjalan setengah berlari keluar masuk ruangan membawa peralatan medis, suara tak tik tok jam dinding masih terdengar keras, dua belas batang lampu neon 60 watt menerangi lorong di depan ruang operasi yang bercat hijau daun, satu dua cicak sedang sibuk mencari nyamuk agar dapat bertahan hidup.

“Kakak menyesal, Dinda, sungguh kakak menyesal…” Ayah Rafif kembali mengucapkan kata – kata itu seakan dia tak pernah mengenal kosakata lain selain kata ‘menyesal’.

 “Dengarkan kakak, isteriku. Kakak berjanji, mulai detik ini kakak tidak akan memukul anak kita, kakak akan belajar untuk menahan emosi dan kakak akan melakukan  apapun untuk kebahagiaan kita.

 Dengarkan kakak, isteriku. Kakak telah berjanji, ini adalah janji seorang ayah dan engkau yang menjadi saksinya.” Suara Ayah Rafif mulai terdengar berat. Tulus mengungkapkan penyesalan.

Pernah mendengar petuah bahwa sekuat apapun keteguhan hati seorang perempuan pasti akan runtuh jika mendengar walau satu janji dari orang yang sangat disayanginya? Persis seperti yang dialami perempuan berjilbab biru saat itu. Dia tak bisa menahan genangan air mata yang sedari tadi menumpuk di pelupuk matanya. Sekonyong – konyong, Ibu Rafif menenggelamkan wajah ke bahu lelakinya. Menangis sesenggukan dalam pelukan kekasih.

“Aku selalu menyayangimu, Kak.”

***

Tubuhku terbujur lemah di atas kasur rumah sakit. Walau terasa berat, ku buka kelopak mataku yang entah berapa lama terkatup. Awalnya terasa samar benda – benda yang kulihat, aku masih belum bisa melihat pintu ruangan dengan jelas, seakan – akan pintu tersebut sedang menari di depanku. Jam dinding terus bergerak bergelombang dalam penglihatanku. Aku sedang tidak memakai baju yang sama saat pulang dari berenang, tanganku dililit selang infus. Yang mengejutkan ada satu sosok yang tidak dapat kulihat jelas wajahnya di samping kiri tempatku terbujur.

“Nak, kamu sudah siuman?” Suara itu memecah keheningan dan kebingunganku akan siapa yang sedang berada di sampingku ini. Suara yang tidak asing ku dengar. Itu suara Ayah.

Walau aku yakin itu suara Ayah namun aku masih linglung, dan belum bisa melihat wajahnya dengan sempurna. Mungkin lama sekali aku memejamkan mata hingga butuh sekitar  semenit untukku memfokuskan pandangan.

Aku merasakan pegal pada punggungku, memaksaku untuk bergerak sedikit ke kanan dan mendesah pelan.

“Hati – hati, Nak. Jangan terlalu banyak bergerak terlebih dahulu.”Ayah menahan tanganku yang masih dililit selang infus.

Dimana aku, Yah?” Tenggorokanku sakit sekali saat aku mengucapkan kalimat tersebut.

Tanpa menjawab pertanyaanku, tiba-tiba Ayah memeluk tubuhku dan menciumi keningku. Serasa ada butir – butir air yang menetes di kening dan mengalir turun hingga ke pipiku.  

“Aku dimana, Yah? Kenapa Ayah menangis?” Kuulangi lagi pertanyaanku kepadanya, namun lagi – lagi dia tidak menjawab pertanyaanku. Mungkin tak penting baginya menjawab pertanyaan singkatku itu, yang terpenting adalah aku sudah siuman.

“Maafkan Rafif, sudah nakal dan membuat Ayah kecewa.” Walau sedikit tersedak, aku memaksa untuk berbicara.

“Ayah berjanji tidak akan memukulmu lagi, Nak,” suara itu terasa berat sekali kudengar seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya.

Sejurus kemudian pintu ruangan terbuka, Ibu datang menenteng sekantong makanan. Seperti seorang yang mendengar akan mendapat hadiah sepeda motor gratis, Ibu berlari menuju kami. “Rafif, kau sudah siuman, Nak?” Aku hanya menjawabnya dengan anggukan ringan. Kulihat mulut Ibu terus mengucapkan sesuatu, mengucapkan kalimat dalam bahasa asing yang sering kudengar jika ada seseorang mendapat kebahagiaan.

“Kami sangat sayang kepadamu.” Air mata Ibuku menetes membasahi pipinya. “Kenapa engkau tidak izin terlebih dahulu jika ingin berenang? Ayahmu sangat khawatir saat itu, dia menunggumu sedari pagi. Sebab itulah dia tidak bisa menahan diri.” Ibu menatap wajah ayah yang sendu. “Tapi Ayah sudah berjanji untuk selalu berusaha mengontrol emosi. Bukan begitu, Yah?” Yang ditanya mengangguk mantab.

Saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami arti sebuah janji. Aku juga belum memahami betul apakah kejadian yang hingga menyebabkanku masuk rumah sakit itu baik atau buruk bagiku. Namun yang aku tahu, setelah kejadian itu Ayah semakin berhati-hati dalam bertindak, tidak melulu emosi jika ada sesuatu yang tidak dikehendakinya. Dan yang lebih penting adalah Ayah semakin sayang dan perhatian kepada kami.

Tulang hidungku patah. Aku harus dirawat ke dalam rumah sakit terlebih dahulu. Mungkin, itulah cara Tuhan membentuk pribadi Ayah.