Aku Ingin Pulang
“...kadang kau mencari kebahagiaan di berbagai tempat,
padahal dia berada persis di depan mata...” (Pepatah Bijak)
“Kau tak apa-apa, Ben?” Toni menatapku setelah
keluar dari kamar mandi hotel. Wajahnya kelihatan segar setelah mandi dengan
air hangat.
“Emm, ya, aku
baik-baik saja.” Ku usap lekuk pipiku yang basah oleh bulir-bulir air mata.
Toni menatapku sekali lagi, menyambungkan kedua alis matanya, menunjukkan
ekspresi penasaran.
“Benar kau
baik-baik saja, kawan?” Toni menghempaskan badannya ke sofa empuk, menatap raut
mukaku dengan penuh tanda tanya, aku mengangguk lemah.
“Baiklah, jika
kau tak ada masalah, aku mau tidur dulu. Kau juga harus istirahat, Ben.
Bukankah besok pagi kau harus menghadiri pertemuan dengan kolega bisnismu?
Badanku lemas sekali karena seharian duduk manis di bangku pesawat. Untung saja
pramugarinya cantik-cantik. Kau ingat dengan pramugari yang bernama Rausa itu,
Ben? Wow, dia manis sekali. Andai tadi aku meminta nomor teleponnya.” Toni
tersenyum genit. Kuperhatikan dia sangat menikmati perjalanan ini.
“Ton, aku ingin
pulang besok pagi.” Suaraku bergetar, menatap sendu Toni yang sedang merapikan bantalnya. Yang kuajak bicara
seketika tertegun, menolehkan wajahnya kepadaku dengan air muka keheranan.
“Apa yang kau
katakan, Ben?” Toni melipat dahinya.
“Aku ingin
pulang.” Aku mengulang perkataan kepada Toni, suaraku masih bergetar.
Toni tersenyum,
tidak percaya dengan apa yang kukatakan, “kau jangan bergurau, kawan.”
“Ton, aku
serius. Aku harus pulang besok pagi.” Pernyataanku membuat Toni mengangkat
pantatnya dari sofa dan melangkahkan kakinya mendekat kepadaku. Aku masih
terduduk di tempat tidur yang menghadap tiga meter persis di depan televisi.
“Oh Tuhan, ada
apa ini? Bukankah kita baru sampai di London tadi sore, dan kau ingin pulang ke
Indonesia besok pagi. Bahkan kau belum menemui kolega kerjamu. Ada apa
denganmu, Ben?” Toni sedikit menaikkan frekuensi suaranya, aku hanya
menundukkan kepala.
“Aku harus
pulang, Ton. Aku harus pulang.” Suaraku mengeras. Aku melemparkan pandangan ke
arah lukisan bunga anggrek yang terpajang di dinding kamar, lukisan yang luar
biasa indah. Namun, saat ini aku tidak dapat menikmati estetika lukisan tersebut.
“Baiklah,
baiklah. Kita pulang besok pagi. Aku yang akan mengurus pembatalan pertemuan
dengan klien besok. Tapi maukah kau ceritakan kepadaku, apa yang terjadi
padamu, kawan?” Tangan kanan Toni menggenggam bahu kiriku, suaranya melemah.
Kualihkan pandanganku ke wajah Toni, mengangguk.
London, satu
jam yang lalu...
Waktu bergerak
merangkak dan hari Jum’at berhenti tepat di pertengahan bulan terakhir kalender
masehi. Jalanan kota ditimbuni salju, tupai-tupai di atas pohon mengintip takut
orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan. Manusia-manusia di luar sana
terlihat lebih gemuk karena jaket tebal yang dikenakannya. Aku dan Toni,
melintasi jalanan menuju hotel, dengan bibir gemetar kedinginan. Bagai berjalan
di dalam lemari es saja, pikirku.
Di kamar hotel,
aku tersenyum bahagia karena memang inilah impianku. Pergi ke London untuk
mengaitkan jaring-jaring bisnisku. Aku mengajak Toni, kawanku sejak SMU yang
saat ini menjadi sekretarisku di perusahaan otomotif yang kurintis delapan
tahun yang lalu. Syukur, bisnisku maju pesat setelah dua tahun aku menikah.
Aku tipe
pekerja keras, aku sangat terobsesi untuk menjadi kaya raya, memiliki rumah
mewah, mobil dan kehidupan yang berlebih lainnya. Itulah sebabnya aku berbisnis
seperti orang yang tak punya rasa lelah. Pagi siang malam, kuhabiskan waktuku
di kantor. Bagiku, tidak ada istilah hari sabtu dan minggu untuk menikmati
akhir pekan. Tidak ada. Akhir pekan selalu kugunakan untuk lembur atau menemui
klien. Teman-temanku pernah bilang kepadaku bahwa aku bekerja layaknya orang
yang kerasukan jin, aku hanya menanggapinya dengan tersenyum. Kini aku menuai
hasilnya, perusahaanku menggurita, memiliki karyawan yang banyak, rumah mewah,
serta mobil istimewa. Rasa-rasanya aku tidak pernah kesulitan untuk membeli
sesuatu.
Namun, film
yang sedang kutonton ini telah menyadarkanku bahwa aku telah melupakan sesuatu
yang teramat penting di kehidupanku : Keluarga.
Aku sedang
duduk di kasur hotel yang berhadapan dengan televisi. Sambil menunggu giliran
mandi air hangat yang masih digunakan oleh Toni, aku melepaskan lelah dengan
menonton film. Kupencet-pencet remote control, berharap menemukan siaran yang setidaknya bisa melepaskan penat karena
perjalanan panjang antar benua ini. Olahraga, berita, infotaintment. Lalu, gerakan tanganku berhenti
pada satu channel drama, yang
‘kebetulan’ film tersebut menayangkan adegan prosesi akad nikah.
Di adegan tersebut,
setelah akad dan janji nikah terucap, penghulu memberikan nasihat pernikahan
kepada pengantin pria, “Setelah ikatan pernikahan ini terjalin, akan ada
perempuan di rumah yang rindu menunggumu pulang, dia yang akan menyiapkan makan
malam terlezat yang pernah dibuatnya hanya untukmu.
“Setelah pernikahan ini, akan ada seorang
perempuan yang akan merasa sakit jika dirimu sakit, ikut merasakan sedih jika
engkau bersedih, dan perempuan inilah yang pertama kali memberimu senyuman
hangat saat engkau membuka kelopak matamu di pagi hari.
“Maka jangan
sakiti perempuan itu, karena dialah separuh bagian dari jiwamu. Perempuan itu
tidak meminta balasan yang berlebih, dia hanya ingin diperhatikan, ditemani
seperti dia yang tulus menemanimu di semua keadaanmu.” Penghulu itu menutup
khotbahnya.
Aku sudah lupa
apa judul filmnya, namun menonton adegan tersebut, tak terasa air mataku
meleleh menuruni pipi. Tiba-tiba aku teringat kepada istriku di rumah. Aku
merasa sangat egois karena aku tak pernah ada waktu untuknya. Yang kupikirkan
hanya karir, karir dan karir. Tak sadar bahwa setiap malam aku selalu
mengecewakannya dengan tidak memakan masakan malamnya karena aku sudah makan
malam di restoran dengan kolega bisnis. Alasan kelelehan sebab seharian bekerja
di kantor, membuatku tidak pernah ada waktu untuknya walau hanya sekedar
mendengarkan curahan hatinya membesarkan anak-anak di rumah. Dia membereskan sepatuku,
membukakan dasiku, sekonyong-konyong aku menghempaskan tubuhku di atas kasur
empuk dan tidur begitu saja. Bibirnya selalu tersenyum melihat wajah lelahku.
Sekalipun dia tidak pernah memprotes, tetapi aku yakin bahwa dalam hatinya, walau
sejenak, dia ingin sekali berbincang denganku.
Aku juga merasa
belum menjadi figur seorang ayah yang baik bagi kedua anakku. Kemarin, Ken,
anakku yang pertama, menemuiku sebelum aku berangkat ke London. Bertanya apakah
aku bisa menonton pertandingan final futsalnya akhir pekan ini? Dia dipilih menjadi
kapten tim oleh pelatih, katanya. Dan, ekspresi kekecewaan seketika nampak dari
wajahnya saat aku menggeleng dan mengatakan bahwa aku harus bekerja sampai lima
hari ke depan. Bagaimana aku bisa mengecewakan buah hatiku yang menggemaskan
itu? Padahal banyak orang di luar sana yang masih kesulitan untuk memiliki
anak. Entah mengapa, saat ini aku sangat merindukan keluargaku, kerinduan yang
memuncak hingga ke ubun-ubun.
Kini, aku
sedang berada di salah satu kota terindah di dunia, namun aku hanya ingin
pulang. Tawaran pemandangan Menara London, Tower Bridge, Benteng Windsor, dan
Thames River yang mempesona tidak membuatku merasakan kebahagiaan. Aku hanya
ingin pulang. Sungguh-sungguh ingin pulang.
Indonesia,
sehari setelahnya...
Baru saja aku
mengijakkan kaki di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, setelah tujuh belas jam
yang melelahkan mengudara dari Bandara Heathrow London, aku langsung melesat ke
rumah bagai peluru.
Sesampai di rumah, kuketuk pintu dan istriku
yang membukanya, perempuanku itu melipat dahi, melihatku bingung yang pulang
jauh lebih awal dari agenda. Ku raih tubuhnya sebelum dia menanyakan sesuatu,
kudekap erat tubuh kekasih yang selama lima tahun ini menemani hidupku. Air
mataku mengalir membasahi pakaiaannya. Tak dapat kupungkiri bahwa sebenarnya
dialah yang membuatku sukses seperti ini. Saat usahaku jungkir balik diawal
perintisan, dialah yang memotivasiku agar segera bangkit. Isteriku-lah orang
yang selalu setia mendengarkan segala keluh kesahku. Padahal sebenarnya dia
juga punya cerita-cerita yang ingin disampaikan kepadaku. Aku menyadari sungguh
egois diriku ini.
Putaran masa
seakan berhenti ketika aku menikmati momen tubuh ini tenggelam dalam pelukan
kekasih. Tak ada kata-kata yang terucap dariku maupun darinya. Namun, kami
dapat merasakan getaran rindu yang kuat yang terpendam dalam kedua hati ini.
Satu lagi tugas
yang harus kuselesaikan hari ini. Menonton pertandingan final futsal, Ken.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar