Sabtu, 16 November 2013

Cerpen Keluarga : Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang

“...kadang kau mencari kebahagiaan di berbagai tempat, padahal dia berada persis di depan mata...” (Pepatah Bijak)


 “Kau tak apa-apa, Ben?” Toni menatapku setelah keluar dari kamar mandi hotel. Wajahnya kelihatan segar setelah mandi dengan air hangat.

“Emm, ya, aku baik-baik saja.” Ku usap lekuk pipiku yang basah oleh bulir-bulir air mata. Toni menatapku sekali lagi, menyambungkan kedua alis matanya, menunjukkan ekspresi penasaran.
                                                                               
“Benar kau baik-baik saja, kawan?” Toni menghempaskan badannya ke sofa empuk, menatap raut mukaku dengan penuh tanda tanya, aku mengangguk lemah.

“Baiklah, jika kau tak ada masalah, aku mau tidur dulu. Kau juga harus istirahat, Ben. Bukankah besok pagi kau harus menghadiri pertemuan dengan kolega bisnismu? Badanku lemas sekali karena seharian duduk manis di bangku pesawat. Untung saja pramugarinya cantik-cantik. Kau ingat dengan pramugari yang bernama Rausa itu, Ben? Wow, dia manis sekali. Andai tadi aku meminta nomor teleponnya.” Toni tersenyum genit. Kuperhatikan dia sangat menikmati perjalanan ini.

“Ton, aku ingin pulang besok pagi.” Suaraku bergetar, menatap sendu Toni yang sedang  merapikan bantalnya. Yang kuajak bicara seketika tertegun, menolehkan wajahnya kepadaku dengan air muka keheranan.

“Apa yang kau katakan, Ben?” Toni melipat dahinya.

“Aku ingin pulang.” Aku mengulang perkataan kepada Toni, suaraku masih bergetar.

Toni tersenyum, tidak percaya dengan apa yang kukatakan, “kau jangan bergurau, kawan.”
“Ton, aku serius. Aku harus pulang besok pagi.” Pernyataanku membuat Toni mengangkat pantatnya dari sofa dan melangkahkan kakinya mendekat kepadaku. Aku masih terduduk di tempat tidur yang menghadap tiga meter persis di depan televisi.

“Oh Tuhan, ada apa ini? Bukankah kita baru sampai di London tadi sore, dan kau ingin pulang ke Indonesia besok pagi. Bahkan kau belum menemui kolega kerjamu. Ada apa denganmu, Ben?” Toni sedikit menaikkan frekuensi suaranya, aku hanya menundukkan kepala.

“Aku harus pulang, Ton. Aku harus pulang.” Suaraku mengeras. Aku melemparkan pandangan ke arah lukisan bunga anggrek yang terpajang di dinding kamar, lukisan yang luar biasa indah. Namun, saat ini aku tidak dapat menikmati estetika lukisan tersebut.

“Baiklah, baiklah. Kita pulang besok pagi. Aku yang akan mengurus pembatalan pertemuan dengan klien besok. Tapi maukah kau ceritakan kepadaku, apa yang terjadi padamu, kawan?” Tangan kanan Toni menggenggam bahu kiriku, suaranya melemah. Kualihkan pandanganku ke wajah Toni, mengangguk.

London, satu jam yang lalu...

Waktu bergerak merangkak dan hari Jum’at berhenti tepat di pertengahan bulan terakhir kalender masehi. Jalanan kota ditimbuni salju, tupai-tupai di atas pohon mengintip takut orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan. Manusia-manusia di luar sana terlihat lebih gemuk karena jaket tebal yang dikenakannya. Aku dan Toni, melintasi jalanan menuju hotel, dengan bibir gemetar kedinginan. Bagai berjalan di dalam lemari es saja, pikirku. 

Di kamar hotel, aku tersenyum bahagia karena memang inilah impianku. Pergi ke London untuk mengaitkan jaring-jaring bisnisku. Aku mengajak Toni, kawanku sejak SMU yang saat ini menjadi sekretarisku di perusahaan otomotif yang kurintis delapan tahun yang lalu. Syukur, bisnisku maju pesat setelah dua tahun aku menikah.

Aku tipe pekerja keras, aku sangat terobsesi untuk menjadi kaya raya, memiliki rumah mewah, mobil dan kehidupan yang berlebih lainnya. Itulah sebabnya aku berbisnis seperti orang yang tak punya rasa lelah. Pagi siang malam, kuhabiskan waktuku di kantor. Bagiku, tidak ada istilah hari sabtu dan minggu untuk menikmati akhir pekan. Tidak ada. Akhir pekan selalu kugunakan untuk lembur atau menemui klien. Teman-temanku pernah bilang kepadaku bahwa aku bekerja layaknya orang yang kerasukan jin, aku hanya menanggapinya dengan tersenyum. Kini aku menuai hasilnya, perusahaanku menggurita, memiliki karyawan yang banyak, rumah mewah, serta mobil istimewa. Rasa-rasanya aku tidak pernah kesulitan untuk membeli sesuatu.

Namun, film yang sedang kutonton ini telah menyadarkanku bahwa aku telah melupakan sesuatu yang teramat penting di kehidupanku : Keluarga.

Aku sedang duduk di kasur hotel yang berhadapan dengan televisi. Sambil menunggu giliran mandi air hangat yang masih digunakan oleh Toni, aku melepaskan lelah dengan menonton film. Kupencet-pencet remote control, berharap menemukan siaran yang setidaknya bisa melepaskan penat karena perjalanan panjang antar benua ini. Olahraga, berita, infotaintment. Lalu, gerakan tanganku berhenti pada satu channel drama, yang ‘kebetulan’ film tersebut menayangkan adegan prosesi akad nikah.

Di adegan tersebut, setelah akad dan janji nikah terucap, penghulu memberikan nasihat pernikahan kepada pengantin pria, “Setelah ikatan pernikahan ini terjalin, akan ada perempuan di rumah yang rindu menunggumu pulang, dia yang akan menyiapkan makan malam terlezat yang pernah dibuatnya hanya untukmu.

 “Setelah pernikahan ini, akan ada seorang perempuan yang akan merasa sakit jika dirimu sakit, ikut merasakan sedih jika engkau bersedih, dan perempuan inilah yang pertama kali memberimu senyuman hangat saat engkau membuka kelopak matamu di pagi hari.

“Maka jangan sakiti perempuan itu, karena dialah separuh bagian dari jiwamu. Perempuan itu tidak meminta balasan yang berlebih, dia hanya ingin diperhatikan, ditemani seperti dia yang tulus menemanimu di semua keadaanmu.” Penghulu itu menutup khotbahnya. 

Aku sudah lupa apa judul filmnya, namun menonton adegan tersebut, tak terasa air mataku meleleh menuruni pipi. Tiba-tiba aku teringat kepada istriku di rumah. Aku merasa sangat egois karena aku tak pernah ada waktu untuknya. Yang kupikirkan hanya karir, karir dan karir. Tak sadar bahwa setiap malam aku selalu mengecewakannya dengan tidak memakan masakan malamnya karena aku sudah makan malam di restoran dengan kolega bisnis. Alasan kelelehan sebab seharian bekerja di kantor, membuatku tidak pernah ada waktu untuknya walau hanya sekedar mendengarkan curahan hatinya membesarkan anak-anak di rumah. Dia membereskan sepatuku, membukakan dasiku, sekonyong-konyong aku menghempaskan tubuhku di atas kasur empuk dan tidur begitu saja. Bibirnya selalu tersenyum melihat wajah lelahku. Sekalipun dia tidak pernah memprotes, tetapi aku yakin bahwa dalam hatinya, walau sejenak, dia ingin sekali berbincang denganku.

Aku juga merasa belum menjadi figur seorang ayah yang baik bagi kedua anakku. Kemarin, Ken, anakku yang pertama, menemuiku sebelum aku berangkat ke London. Bertanya apakah aku bisa menonton pertandingan final futsalnya akhir pekan ini? Dia dipilih menjadi kapten tim oleh pelatih, katanya. Dan, ekspresi kekecewaan seketika nampak dari wajahnya saat aku menggeleng dan mengatakan bahwa aku harus bekerja sampai lima hari ke depan. Bagaimana aku bisa mengecewakan buah hatiku yang menggemaskan itu? Padahal banyak orang di luar sana yang masih kesulitan untuk memiliki anak. Entah mengapa, saat ini aku sangat merindukan keluargaku, kerinduan yang memuncak hingga ke ubun-ubun.

Kini, aku sedang berada di salah satu kota terindah di dunia, namun aku hanya ingin pulang. Tawaran pemandangan Menara London, Tower Bridge, Benteng Windsor, dan Thames River yang mempesona tidak membuatku merasakan kebahagiaan. Aku hanya ingin pulang. Sungguh-sungguh ingin pulang.

Indonesia, sehari setelahnya...

Baru saja aku mengijakkan kaki di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, setelah tujuh belas jam yang melelahkan mengudara dari Bandara Heathrow London, aku langsung melesat ke rumah bagai peluru.

 Sesampai di rumah, kuketuk pintu dan istriku yang membukanya, perempuanku itu melipat dahi, melihatku bingung yang pulang jauh lebih awal dari agenda. Ku raih tubuhnya sebelum dia menanyakan sesuatu, kudekap erat tubuh kekasih yang selama lima tahun ini menemani hidupku. Air mataku mengalir membasahi pakaiaannya. Tak dapat kupungkiri bahwa sebenarnya dialah yang membuatku sukses seperti ini. Saat usahaku jungkir balik diawal perintisan, dialah yang memotivasiku agar segera bangkit. Isteriku-lah orang yang selalu setia mendengarkan segala keluh kesahku. Padahal sebenarnya dia juga punya cerita-cerita yang ingin disampaikan kepadaku. Aku menyadari sungguh egois diriku ini.

Putaran masa seakan berhenti ketika aku menikmati momen tubuh ini tenggelam dalam pelukan kekasih. Tak ada kata-kata yang terucap dariku maupun darinya. Namun, kami dapat merasakan getaran rindu yang kuat yang terpendam dalam kedua hati ini. 

Satu lagi tugas yang harus kuselesaikan hari ini. Menonton pertandingan final futsal, Ken.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar