Cara Tuhan Mendidik
Surabaya,
Pukul 17.15 wib
Ufuk timur membiru gelap saat matahari mulai condong
dan hampir tenggelam ke bagian barat. Suasana jalan raya mulai berubah. Motor,
becak, truk, mobil, serta angkot memadati jalan hingga tak ada kesempatan sedikitpun
untuk menambah kecepatan bagi pengemudi. Andai saja saat ini ada yang melihat
pemandangan jalanan dari ketinggian, maka barisan kendaraan – kendaraan ini
akan terlihat seperti ular sedang merambat
pelan. Suara bising dari knalpot kendaraan menjadi – jadi, suara klakson saling
bersautan melukiskan
betapa tak sabarannya pengemudi kendaraan tersebut. Satu suara klakson dibalas
dengan dua pencetan, dua dibalas tiga, dan seterusnya. Bisa dibayangkan betapa
ramainya senja di jalan raya ini. Belum lagi asap yang
ditimbulkan membuat satu dua orang mulai menahan nafas, menutupi hidung.
Aku berjalan
santai di trotoar, menenteng tas berisi baju basah bekas renang tadi pagi. Ingin
rasanya aku segera sampai rumah untuk melepaskan lelah karena seharian tadi aku
berenang di waterpark, apalagi aku
belum makan nasi sama sekali. Sebelum berangkat tadi pagi, perutku hanya kuisi dengan
satu bungkus mie goreng dan satu tahu isi. Rasanya energi yang dihasilkan dari
makanan tersebut langsung menguap saat seharian kugunakan tubuh ini berenang di
kolam. Aku memang sangat suka berenang. Apalagi tadi aku berenang bersama
banyak teman, bermain voli air, lomba menahan nafas paling lama di dalam air,
dan berseluncur membuat waktu seakan lebih cepat bergulir, rasa lapar pun juga
tak seberapa terasa.
Lima ratus meter
lagi aku akan memasuki gang rumahku, perut yang keroncongan ini seakan
memaksaku untuk mempercepat
langkah kaki agar segera sampai rumah. Bayangan makanan di dapur menggelanyut liar dipikiranku. Sekarang tinggal
melewati lima
rumah lagi aku akan sampai. Dua rumah. Satu rumah. Sampai.
Kuturunkan tas
berisi baju basah yang kutenteng sedari tadi sembari mengucapkan salam kepada
penghuni rumah. Ayah dan Ibuku pasti ada di dalam. Dan, ternyata benar. Seorang
berusia empat puluh tahun yang memengenakan peci menutupi rambutnya sedang membukakan
pintu. Saat pintu terbuka, aku tersenyum melihat Ayah yang berdiri tegak di
depanku. Namun, ada yang berbeda dari raut mukanya. Aku mulai mengingat – ingat apa
kesalahan yang telah kuperbuat. Ayahku memang seorang yang pemarah dan sangat emosional. Jarang
sekali aku
melihat sunggingan dari bibirnya. Tapi kegarangan yang sedang ditunjukkan lewat raut
mukanya ini membuatku yakin ada sesuatu yang tidak beres. Kutepis
prasangkaku dan langsung mencoba meraih tangan kanannya untuk kucium.
PLAK…
Pipi kiriku ku tertampar oleh tangan kanannya.
PLAK…
Kali ini tangan itu mendarat persis di hidungku. Aku
kesakitan, menangis,
meronta serta berteriak mencari alasan mengapa tiba – tiba Ayah membabi - buta
memukuliku. Orang – orang yang lewat di depan rumahku menoleh memandangi kami dengan
tatapan miris, namun hal tersebut tak dihiraukan oleh Ayah. Dipeganginya
tanganku agar aku tak bisa lari. Setelah tamparan yang kedua, aku merasa ada yang mengalir
melalui kedua lubang hidungku. Kusentuh bagian atas
bibir
dengan ujung jari,
mencoba memastikan apa yang keluar dari hidungku. Darah. Belum habis
keterkejutanku akan darah yang keluar dari lubang hidung, tiba-tiba untuk yang
kesekian kali
tangan Ayah menghajar mukaku dengan telak.
PLAK…
Pukulan terakhir lebih keras dari yang
sebelummnya. Kali ini seluruh anggota
tubuhku lemas dan sulit digerakkan. Tangisanku yang semula keras mulai melemah. Mungkin rasa lapar yang kurasakan sedari tadi semakin
membuatku lunglai. Tiba – tiba saja pandanganku menjadi samar, semakin samar
dan gelap seketika.
***
“Anak ini terlalu
banyak mengeluarkan darah, Pak.” Dokter laki - laki berusia lima puluh tahunan
itu berucap pelan sesaat setelah memeriksa tubuh kecil Rafif yang masih tak sadarkan diri.
“Anak Bapak harus segera ditransfusi darah, kondisi tubuhnya sangat lemah,
sepertinya dia tidak makan dari pagi.” Persendian Ayah Rafif
lunglai mendengar ucapan dokter paruh
baya tersebut.
“Lakukan, Dok.
Silahkan ditransfusi asal anak saya selamat.” Ayah Rafif berkata dengan suara tegas
walau tak dapat dipungkiri rasa penyesalan tergambar jelas di raut mukanya.
Usia Rafif
sembilan tahun saat kejadian Ayahnya
memukulinya hingga dia harus dilarikan ke rumah
sakit. Saat itu Ayah Rafif
sangat panik karena pagi hingga menjelang malam anak tunggalnya itu tidak berada di rumah. Pagi
itu Rafif pergi berenang bersama teman
– teman sepermainan.
Takut tak diijinkan, Rafif
memutuskan untuk tidak pamit terlebih dahulu. Pagi saat Ayahnya pergi berolahraga sedang Ibunya masih di pasar, Rafif nyelonong pergi dengan tas
dan baju ganti serta uang lima belas ribu hasil menabung selama satu bulan
untuk biaya masuk kolam. Agar tak membuang waktu, batinnya, Rafif memilih sarapan mie di rumah salah satu temannya, berharap dia dapat keluar rumah
sebelum Ayah dan Ibunya
pulang.
Sampai siang hari Rafif masih tak nampak keberadaannya di rumah.
Padahal walaupun hari libur, Rafif selalu berada di rumah jika
dhuhur tiba. Ayahnya selalu
membiasakan Rafif agar
tidak keluar saat siang hari dan mulai memperbolehkannya bermain ba’da sholat ashar.
“Agar tidak cepat sakit,” begitu jawaban Ayahnya ketika Rafif bertanya mengapa dia
selalu tak diperbolehkan keluar siang hari.
Sore tiba, dan Rafif masih tak ada di rumah,
Ayahnya mulai
waswas, bertanya kepada Isterinya
apakah Rafif
berpamitan kepadanya sebelum meninggalkan rumah? Isterinya hanya menggeleng pelan, “Mungkin dia main
di rumah temannya, Kak.” Ibu Rafif mulai
mencari alasan yang tepat agar suaminya
tak marah. Rafif adalah
anak satu – satunya yang dimiliki oleh kedua orangtuannya, jadi sangat wajar jikalau mereka sangat khawatir dengan
keadaannya.
Menjelang maghrib, sosok Rafif masih belum nampak. Sebenarnya Ayah Rafif
belum puas ketika isterinya
bilang bahwa mungkin anaknya
sedang main di rumah teman. Sebab tak biasanya Rafif bermain ke rumah teman dan
pulang hingga larut. Karena itulah setelah sholat ashar, lelaki itu mencari anaknya di rumah teman – teman
sekolah Rafif
seperti Arif dan Riski yang kebetulan saat itu tidak sedang ikut berenang. Tak menemukan Rafif
di sana, membuat
Ayah
Rafif semakin
panik dan kepanikan itulah yang membuat dirinya
mulai tak sabaran. Takut terjadi hal – hal yang tidak diinginkan menimpa anak semata
wayangnya itu.
Kesabaran Ayah Rafif habis saat maghrib
tiba. Isterinya
berusaha menenangkan sang suami agar lebih bersabar, “sabar bagaimana, Bu? Rafif tidak
pulang dari pagi dan Ibu bisa tenang?” Intonasi suara Ayah Rafif mulai meninggi, “kalau sampai
lepas Maghrib Rafif tidak pulang, kakak
akan lapor ke kantor polisi.” Isterinya
hanya mendesah pelan. Jika Ibu Rafif
ingin jujur, sebenarnya dia juga
khawatir, mungkin lebih khawatir daripada kekhawatiran suaminya. Namun, karena takut suaminya semakin marah dan panik, maka
perempuan
itu mencoba
menahan gejolak hatinya yang sedang bergemuruh menanti kedatangan anak laki-lakinya
itu.
Dan, Rafif datang pada waktu yang sangat tidak tepat. Emosi
Ayahnya berada dipuncak ubun-ubun. Sial, ketika itu Ibunya masih di dapur menyiapkan
makasan untuk makan malam, jadi tak ada pembela saat Rafif menjadi
bulan – bulanan Ayahnya.
Hingga saat Rafif
menampakkan batang hidung, tanpa berpikir dua kali Ayah menghajarnya. Sesuatu yang harus dibayar lunas karena satu hal :
tidak ijin.
“Pak, ternyata
tulang hidung anak Bapak patah dan harus segera dioperasi.” Suara lemah dokter
paruh baya memenuhi ruang kosong di depan ruangan Rafif dirawat. Yang diajak bicara semakin
khawatir dengan kondisi anaknya.
“Apa? Tulang hidungnya patah?” Lelaki itu tak
percaya bahwa pukulan ketiganya yang mendarat telak pada wajah Rafif membuat tulang hidung anaknya patah. Perempuan yang berada disampingnya menutupi mulut dengan kedua
telapak tangan,
tidak percaya, seraya menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh tanya : sekeras itukah kau menampar Rafif?
“Operasi dok, lakukan apa saja agar anak saya dapat
kembali normal.” Volume suara Ayah Rafif
meninggi, menunjukkan bahwa dia sangat khawatir dengan keadaan anak lelakinya.
“Akan saya usahakan, Pak. Berdo’alah, semoga Tuhan memberikan yang terbaik.”
Kalimat dokter itu berusaha menenangkan emosi Ayah Rafif yang mulai tak terkontrol.
***
Persis di lorong
depan ruang operasi, sepasang sejoli itu sedang duduk di kursi panjang dengan kepala menunduk. Tanpa suara. Hening. Desah
nafas dan tak tik tok bunyi detik jam dinding terdengar cukup keras dan
menggema. Perempuan itu
sedari tadi memang tak mau bicara, demikianlah sikap Ibu Rafif jika sedang “menghukum” suaminya ketika berbuat kesalahan.
Ayah Rafif yang sedari tadi diacuhkan, mencoba menatap
wajah isterinya yang masih terlihat kecewa
dengan sikapnya yang membabi – buta memukuli anak tunggal mereka. Lelaki itu berusaha memecah keheningan.
“Kakak minta
maaf…” Kalimat pertama Ayah Rafif itu akhirnya muncul setelah setengah jam
hanya terduduk ditikam kesunyian. Namun, lagi – lagi isterinya hanya diam tak menghiraukan.
“Sungguh Kakak
menyesal…” Kalimat kedua lelaki itu meluncur dari bibirnya. Kali ini sang isteri mengangkat wajahnya ke langit
– langit lorong dengan mata berkaca-kaca.
“Kumohon jangan
kau hukum aku seperti ini, Dinda…”Ayah Rafif
menggenggam
tangan kanan isterinya yang masih tergugu,
mengisyaratkan agar isterinya
sudi menanggapi walau hanya sekedar menoleh kepadanya.
“Harusnya kau tak
memukul Rafif terlalu keras, Kak.” Akhirnya perempuan itu memaksakan berbicara kepada suaminya, sambil bersiap mengusap airmatanya yang menggenang di pelupuk mata dengan ujung jilbab biru yang dikenakannya.
Lorong ruang
operasi sunyi kembali, satu dua suster berjalan setengah berlari keluar masuk
ruangan membawa peralatan medis, suara tak tik tok jam dinding masih terdengar
keras, dua belas batang lampu neon 60 watt menerangi lorong di depan ruang
operasi yang bercat hijau daun, satu dua cicak sedang sibuk mencari nyamuk agar
dapat bertahan hidup.
“Kakak menyesal,
Dinda, sungguh kakak
menyesal…” Ayah Rafif
kembali mengucapkan kata – kata itu seakan dia tak pernah mengenal kosakata
lain selain kata ‘menyesal’.
“Dengarkan kakak, isteriku. Kakak berjanji, mulai
detik ini kakak tidak akan memukul anak kita, kakak akan belajar untuk menahan emosi dan kakak akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kita.
“Dengarkan
kakak, isteriku. Kakak telah berjanji, ini adalah janji seorang ayah dan engkau yang menjadi
saksinya.” Suara Ayah Rafif mulai
terdengar berat. Tulus mengungkapkan penyesalan.
Pernah mendengar
petuah bahwa sekuat apapun keteguhan hati seorang perempuan pasti akan runtuh
jika mendengar walau satu
janji dari orang yang sangat disayanginya? Persis seperti yang dialami perempuan berjilbab
biru saat itu. Dia
tak bisa menahan genangan air mata yang sedari tadi menumpuk di pelupuk
matanya. Sekonyong – konyong, Ibu Rafif
menenggelamkan wajah ke bahu lelakinya. Menangis
sesenggukan dalam pelukan kekasih.
“Aku
selalu menyayangimu, Kak.”
***
Tubuhku terbujur
lemah di atas kasur rumah sakit. Walau terasa berat, ku buka kelopak mataku
yang entah berapa lama terkatup. Awalnya terasa samar benda – benda yang
kulihat, aku masih belum bisa melihat pintu ruangan dengan jelas, seakan – akan
pintu tersebut sedang menari di depanku. Jam dinding terus bergerak
bergelombang dalam penglihatanku. Aku sedang tidak memakai baju yang sama saat
pulang dari berenang, tanganku dililit selang infus. Yang mengejutkan ada satu
sosok yang tidak dapat kulihat jelas wajahnya di samping kiri tempatku
terbujur.
“Nak, kamu sudah siuman?”
Suara itu memecah keheningan dan kebingunganku akan siapa yang sedang berada di
sampingku ini. Suara yang tidak asing ku dengar. Itu suara Ayah.
Walau aku yakin
itu suara Ayah namun aku masih linglung, dan belum bisa melihat wajahnya dengan
sempurna. Mungkin lama sekali aku memejamkan mata hingga butuh sekitar semenit
untukku memfokuskan pandangan.
Aku merasakan
pegal pada punggungku, memaksaku untuk bergerak sedikit ke kanan dan mendesah
pelan.
“Hati – hati, Nak.
Jangan terlalu banyak bergerak terlebih dahulu.”Ayah menahan tanganku yang
masih dililit selang infus.
“Dimana aku, Yah?” Tenggorokanku sakit
sekali saat aku mengucapkan kalimat tersebut.
Tanpa menjawab
pertanyaanku, tiba-tiba Ayah memeluk tubuhku dan menciumi keningku. Serasa ada
butir – butir air yang menetes di kening dan mengalir turun hingga ke pipiku.
“Aku dimana, Yah?
Kenapa Ayah menangis?” Kuulangi
lagi pertanyaanku kepadanya, namun lagi – lagi dia tidak menjawab pertanyaanku.
Mungkin tak penting baginya menjawab pertanyaan singkatku itu, yang terpenting
adalah aku sudah siuman.
“Maafkan Rafif,
sudah nakal dan membuat Ayah kecewa.” Walau sedikit tersedak, aku memaksa untuk
berbicara.
“Ayah berjanji
tidak akan memukulmu lagi, Nak,” suara itu terasa berat sekali kudengar seperti
ada yang mengganjal di tenggorokannya.
Sejurus kemudian
pintu ruangan terbuka, Ibu datang menenteng sekantong makanan. Seperti seorang yang mendengar akan mendapat
hadiah sepeda motor gratis, Ibu berlari menuju kami. “Rafif, kau sudah siuman,
Nak?” Aku hanya menjawabnya dengan anggukan ringan. Kulihat mulut Ibu terus
mengucapkan sesuatu, mengucapkan kalimat dalam bahasa asing yang sering
kudengar jika ada seseorang mendapat kebahagiaan.
“Kami
sangat sayang kepadamu.” Air mata Ibuku menetes membasahi pipinya. “Kenapa
engkau tidak izin terlebih dahulu jika ingin berenang? Ayahmu sangat khawatir
saat itu, dia menunggumu sedari pagi. Sebab itulah dia tidak bisa menahan diri.”
Ibu menatap wajah ayah yang sendu. “Tapi Ayah sudah berjanji untuk selalu
berusaha mengontrol emosi. Bukan begitu, Yah?” Yang ditanya mengangguk mantab.
Saat itu
aku masih terlalu kecil untuk memahami arti sebuah janji. Aku juga belum
memahami betul apakah kejadian yang hingga menyebabkanku masuk rumah sakit itu
baik atau buruk bagiku. Namun yang aku tahu, setelah kejadian itu Ayah semakin
berhati-hati dalam bertindak, tidak melulu emosi jika ada sesuatu yang tidak
dikehendakinya. Dan yang lebih penting adalah Ayah semakin sayang dan perhatian
kepada kami.
Tulang hidungku
patah. Aku harus dirawat ke dalam rumah sakit terlebih dahulu. Mungkin, itulah
cara Tuhan membentuk pribadi Ayah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar