Sabtu, 16 November 2013

Cerpen Keluarga : Ayah


Cara Tuhan Mendidik

Surabaya, Pukul 17.15 wib

Ufuk timur membiru gelap saat matahari mulai condong dan hampir tenggelam ke bagian barat. Suasana jalan raya mulai berubah. Motor, becak, truk, mobil, serta angkot memadati jalan hingga tak ada kesempatan sedikitpun untuk menambah kecepatan bagi pengemudi. Andai saja saat ini ada yang melihat pemandangan jalanan dari ketinggian, maka barisan kendaraan – kendaraan ini akan terlihat seperti ular sedang merambat pelan. Suara bising dari knalpot kendaraan menjadi – jadi, suara klakson saling bersautan melukiskan betapa tak sabarannya pengemudi kendaraan tersebut. Satu suara klakson dibalas dengan dua pencetan, dua dibalas tiga, dan seterusnya. Bisa dibayangkan betapa ramainya senja di jalan raya ini. Belum lagi asap yang ditimbulkan membuat satu dua orang mulai menahan nafas, menutupi hidung.

Aku berjalan santai di trotoar, menenteng tas berisi baju basah bekas renang tadi pagi. Ingin rasanya aku segera sampai rumah untuk melepaskan lelah karena seharian tadi aku berenang di waterpark, apalagi aku belum makan nasi sama sekali. Sebelum berangkat tadi pagi, perutku hanya kuisi dengan satu bungkus mie goreng dan satu tahu isi. Rasanya energi yang dihasilkan dari makanan tersebut langsung menguap saat seharian kugunakan tubuh ini berenang di kolam. Aku memang sangat suka berenang. Apalagi tadi aku berenang bersama banyak teman, bermain voli air, lomba menahan nafas paling lama di dalam air, dan berseluncur membuat waktu seakan lebih cepat bergulir, rasa lapar pun juga tak seberapa terasa.

Lima ratus meter lagi aku akan memasuki gang rumahku, perut yang keroncongan ini seakan memaksaku untuk mempercepat langkah kaki agar segera sampai rumah. Bayangan makanan di dapur menggelanyut liar dipikiranku. Sekarang tinggal melewati lima rumah lagi aku akan sampai. Dua rumah. Satu rumah. Sampai.

Kuturunkan tas berisi baju basah yang kutenteng sedari tadi sembari mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Ayah dan Ibuku pasti ada di dalam. Dan, ternyata benar. Seorang berusia empat puluh tahun yang memengenakan peci menutupi rambutnya sedang membukakan pintu. Saat pintu terbuka, aku tersenyum melihat Ayah yang berdiri tegak di depanku. Namun, ada yang berbeda dari raut mukanya. Aku mulai mengingat – ingat apa kesalahan yang telah kuperbuat. Ayahku memang seorang yang pemarah dan sangat emosional. Jarang sekali aku melihat sunggingan dari bibirnya. Tapi kegarangan yang sedang ditunjukkan lewat raut mukanya ini membuatku yakin ada sesuatu yang tidak beres. Kutepis prasangkaku dan langsung mencoba meraih tangan kanannya untuk kucium.

            PLAK…

            Pipi kiriku ku tertampar oleh tangan kanannya.

            PLAK…

            Kali ini tangan itu mendarat persis di hidungku. Aku kesakitan, menangis, meronta serta berteriak mencari alasan mengapa tiba – tiba Ayah membabi - buta memukuliku. Orang – orang yang lewat di depan rumahku menoleh memandangi kami dengan tatapan miris, namun hal tersebut tak dihiraukan oleh Ayah. Dipeganginya tanganku agar aku tak bisa lari. Setelah tamparan yang kedua, aku merasa ada yang mengalir melalui kedua lubang hidungku. Kusentuh bagian atas bibir dengan ujung jari, mencoba memastikan apa yang keluar dari hidungku. Darah. Belum habis keterkejutanku akan darah yang keluar dari lubang hidung, tiba-tiba untuk yang kesekian kali tangan Ayah menghajar mukaku dengan telak.

            PLAK…

            Pukulan terakhir lebih keras dari yang sebelummnya. Kali ini seluruh anggota tubuhku lemas dan sulit digerakkan. Tangisanku yang semula keras mulai melemah.  Mungkin rasa lapar yang kurasakan sedari tadi semakin membuatku lunglai. Tiba – tiba saja pandanganku menjadi samar, semakin samar dan gelap seketika.

***

“Anak ini terlalu banyak mengeluarkan darah, Pak.” Dokter laki - laki berusia lima puluh tahunan itu berucap pelan sesaat setelah memeriksa tubuh kecil Rafif yang masih tak sadarkan diri. “Anak Bapak harus segera ditransfusi darah, kondisi tubuhnya sangat lemah, sepertinya dia tidak makan dari pagi.” Persendian Ayah Rafif lunglai mendengar ucapan dokter paruh baya tersebut.

“Lakukan, Dok. Silahkan ditransfusi asal anak saya selamat.” Ayah Rafif berkata dengan suara tegas walau tak dapat dipungkiri rasa penyesalan tergambar jelas di raut mukanya.

Usia Rafif sembilan tahun saat kejadian Ayahnya memukulinya hingga dia harus dilarikan ke rumah sakit. Saat itu Ayah Rafif sangat panik karena pagi hingga menjelang malam anak tunggalnya itu tidak berada di rumah. Pagi itu Rafif pergi berenang bersama teman – teman sepermainan. Takut tak diijinkan, Rafif memutuskan untuk tidak pamit terlebih dahulu. Pagi saat Ayahnya pergi berolahraga sedang Ibunya masih di pasar, Rafif nyelonong pergi dengan tas dan baju ganti serta uang lima belas ribu hasil menabung selama satu bulan untuk biaya masuk kolam. Agar tak membuang waktu, batinnya, Rafif memilih sarapan mie di rumah salah satu temannya, berharap dia dapat keluar rumah sebelum Ayah dan Ibunya pulang.

Sampai siang hari Rafif masih tak nampak keberadaannya di rumah. Padahal walaupun hari libur, Rafif selalu berada di rumah jika dhuhur tiba. Ayahnya selalu membiasakan Rafif agar tidak keluar saat siang hari dan mulai memperbolehkannya bermain ba’da sholat ashar. “Agar tidak cepat sakit,” begitu jawaban Ayahnya ketika Rafif bertanya mengapa dia selalu tak diperbolehkan keluar siang hari.

Sore tiba, dan Rafif masih tak ada di rumah, Ayahnya mulai waswas, bertanya kepada Isterinya apakah Rafif berpamitan kepadanya sebelum meninggalkan rumah? Isterinya hanya menggeleng pelan, “Mungkin dia main di rumah temannya, Kak.” Ibu Rafif mulai mencari alasan yang tepat agar suaminya tak marah. Rafif adalah anak satu – satunya yang dimiliki oleh kedua orangtuannya, jadi sangat wajar jikalau mereka sangat khawatir dengan keadaannya.

Menjelang maghrib, sosok Rafif  masih belum nampak. Sebenarnya Ayah Rafif belum puas ketika isterinya bilang bahwa mungkin anaknya sedang main di rumah teman. Sebab tak biasanya Rafif bermain ke rumah teman dan pulang hingga larut. Karena itulah setelah sholat ashar, lelaki itu mencari anaknya di rumah teman – teman sekolah Rafif seperti Arif dan Riski yang kebetulan saat itu tidak sedang ikut berenang. Tak menemukan Rafif di sana, membuat Ayah Rafif semakin panik dan kepanikan itulah yang membuat dirinya mulai tak sabaran. Takut terjadi hal – hal yang tidak diinginkan menimpa anak semata wayangnya itu.

Kesabaran Ayah Rafif habis saat maghrib tiba. Isterinya berusaha menenangkan sang suami agar lebih bersabar, “sabar bagaimana, Bu? Rafif tidak pulang dari pagi dan Ibu bisa tenang?” Intonasi suara Ayah Rafif mulai meninggi, “kalau sampai lepas Maghrib Rafif tidak pulang, kakak akan lapor ke kantor polisi.” Isterinya hanya mendesah pelan. Jika Ibu Rafif ingin jujur, sebenarnya dia juga khawatir, mungkin lebih khawatir daripada kekhawatiran suaminya. Namun, karena takut suaminya semakin marah dan panik, maka perempuan itu mencoba menahan gejolak hatinya yang sedang bergemuruh menanti kedatangan anak laki-lakinya itu.

Dan, Rafif datang pada waktu yang sangat tidak tepat. Emosi Ayahnya berada dipuncak ubun-ubun. Sial, ketika itu Ibunya masih di dapur menyiapkan makasan untuk makan malam, jadi tak ada pembela saat Rafif menjadi bulan – bulanan Ayahnya. Hingga saat Rafif menampakkan batang hidung, tanpa berpikir dua kali Ayah menghajarnya. Sesuatu yang harus dibayar lunas karena satu hal : tidak ijin.

“Pak, ternyata tulang hidung anak Bapak patah dan harus segera dioperasi.” Suara lemah dokter paruh baya memenuhi ruang kosong di depan ruangan Rafif dirawat. Yang diajak bicara semakin khawatir dengan kondisi anaknya. “Apa? Tulang hidungnya patah?” Lelaki itu tak percaya bahwa pukulan ketiganya yang mendarat telak pada wajah Rafif membuat tulang hidung anaknya patah. Perempuan yang berada disampingnya menutupi mulut dengan kedua telapak tangan, tidak percaya, seraya menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh tanya : sekeras itukah kau menampar Rafif?

            “Operasi dok, lakukan apa saja agar anak saya dapat kembali normal.” Volume suara Ayah Rafif meninggi, menunjukkan bahwa dia sangat khawatir dengan keadaan anak lelakinya.  

            “Akan saya usahakan, Pak. Berdo’alah, semoga Tuhan memberikan yang terbaik.” Kalimat dokter itu berusaha menenangkan emosi Ayah Rafif yang mulai tak terkontrol.

***

Persis di lorong depan ruang operasi, sepasang sejoli itu sedang duduk di kursi panjang dengan kepala menunduk. Tanpa suara. Hening. Desah nafas dan tak tik tok bunyi detik jam dinding terdengar cukup keras dan menggema. Perempuan itu sedari tadi memang tak mau bicara, demikianlah sikap Ibu Rafif jika sedang “menghukum” suaminya ketika berbuat kesalahan.

Ayah Rafif yang sedari tadi diacuhkan, mencoba menatap wajah isterinya yang masih terlihat kecewa dengan sikapnya yang membabi – buta memukuli anak tunggal mereka. Lelaki itu berusaha memecah keheningan.

“Kakak minta maaf…” Kalimat pertama Ayah Rafif itu  akhirnya muncul setelah setengah jam hanya terduduk ditikam kesunyian. Namun, lagi – lagi isterinya hanya diam tak menghiraukan.

“Sungguh Kakak menyesal…” Kalimat kedua lelaki itu meluncur dari bibirnya. Kali ini sang isteri mengangkat wajahnya ke langit – langit lorong dengan mata berkaca-kaca.

“Kumohon jangan kau hukum aku seperti ini, Dinda…”Ayah Rafif menggenggam tangan kanan isterinya yang masih tergugu, mengisyaratkan agar isterinya sudi menanggapi walau hanya sekedar menoleh kepadanya.

“Harusnya kau tak memukul Rafif terlalu keras, Kak.” Akhirnya perempuan itu memaksakan berbicara kepada suaminya, sambil bersiap mengusap airmatanya yang menggenang di pelupuk mata dengan ujung jilbab biru yang dikenakannya.

Lorong ruang operasi sunyi kembali, satu dua suster berjalan setengah berlari keluar masuk ruangan membawa peralatan medis, suara tak tik tok jam dinding masih terdengar keras, dua belas batang lampu neon 60 watt menerangi lorong di depan ruang operasi yang bercat hijau daun, satu dua cicak sedang sibuk mencari nyamuk agar dapat bertahan hidup.

“Kakak menyesal, Dinda, sungguh kakak menyesal…” Ayah Rafif kembali mengucapkan kata – kata itu seakan dia tak pernah mengenal kosakata lain selain kata ‘menyesal’.

 “Dengarkan kakak, isteriku. Kakak berjanji, mulai detik ini kakak tidak akan memukul anak kita, kakak akan belajar untuk menahan emosi dan kakak akan melakukan  apapun untuk kebahagiaan kita.

 Dengarkan kakak, isteriku. Kakak telah berjanji, ini adalah janji seorang ayah dan engkau yang menjadi saksinya.” Suara Ayah Rafif mulai terdengar berat. Tulus mengungkapkan penyesalan.

Pernah mendengar petuah bahwa sekuat apapun keteguhan hati seorang perempuan pasti akan runtuh jika mendengar walau satu janji dari orang yang sangat disayanginya? Persis seperti yang dialami perempuan berjilbab biru saat itu. Dia tak bisa menahan genangan air mata yang sedari tadi menumpuk di pelupuk matanya. Sekonyong – konyong, Ibu Rafif menenggelamkan wajah ke bahu lelakinya. Menangis sesenggukan dalam pelukan kekasih.

“Aku selalu menyayangimu, Kak.”

***

Tubuhku terbujur lemah di atas kasur rumah sakit. Walau terasa berat, ku buka kelopak mataku yang entah berapa lama terkatup. Awalnya terasa samar benda – benda yang kulihat, aku masih belum bisa melihat pintu ruangan dengan jelas, seakan – akan pintu tersebut sedang menari di depanku. Jam dinding terus bergerak bergelombang dalam penglihatanku. Aku sedang tidak memakai baju yang sama saat pulang dari berenang, tanganku dililit selang infus. Yang mengejutkan ada satu sosok yang tidak dapat kulihat jelas wajahnya di samping kiri tempatku terbujur.

“Nak, kamu sudah siuman?” Suara itu memecah keheningan dan kebingunganku akan siapa yang sedang berada di sampingku ini. Suara yang tidak asing ku dengar. Itu suara Ayah.

Walau aku yakin itu suara Ayah namun aku masih linglung, dan belum bisa melihat wajahnya dengan sempurna. Mungkin lama sekali aku memejamkan mata hingga butuh sekitar  semenit untukku memfokuskan pandangan.

Aku merasakan pegal pada punggungku, memaksaku untuk bergerak sedikit ke kanan dan mendesah pelan.

“Hati – hati, Nak. Jangan terlalu banyak bergerak terlebih dahulu.”Ayah menahan tanganku yang masih dililit selang infus.

Dimana aku, Yah?” Tenggorokanku sakit sekali saat aku mengucapkan kalimat tersebut.

Tanpa menjawab pertanyaanku, tiba-tiba Ayah memeluk tubuhku dan menciumi keningku. Serasa ada butir – butir air yang menetes di kening dan mengalir turun hingga ke pipiku.  

“Aku dimana, Yah? Kenapa Ayah menangis?” Kuulangi lagi pertanyaanku kepadanya, namun lagi – lagi dia tidak menjawab pertanyaanku. Mungkin tak penting baginya menjawab pertanyaan singkatku itu, yang terpenting adalah aku sudah siuman.

“Maafkan Rafif, sudah nakal dan membuat Ayah kecewa.” Walau sedikit tersedak, aku memaksa untuk berbicara.

“Ayah berjanji tidak akan memukulmu lagi, Nak,” suara itu terasa berat sekali kudengar seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya.

Sejurus kemudian pintu ruangan terbuka, Ibu datang menenteng sekantong makanan. Seperti seorang yang mendengar akan mendapat hadiah sepeda motor gratis, Ibu berlari menuju kami. “Rafif, kau sudah siuman, Nak?” Aku hanya menjawabnya dengan anggukan ringan. Kulihat mulut Ibu terus mengucapkan sesuatu, mengucapkan kalimat dalam bahasa asing yang sering kudengar jika ada seseorang mendapat kebahagiaan.

“Kami sangat sayang kepadamu.” Air mata Ibuku menetes membasahi pipinya. “Kenapa engkau tidak izin terlebih dahulu jika ingin berenang? Ayahmu sangat khawatir saat itu, dia menunggumu sedari pagi. Sebab itulah dia tidak bisa menahan diri.” Ibu menatap wajah ayah yang sendu. “Tapi Ayah sudah berjanji untuk selalu berusaha mengontrol emosi. Bukan begitu, Yah?” Yang ditanya mengangguk mantab.

Saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami arti sebuah janji. Aku juga belum memahami betul apakah kejadian yang hingga menyebabkanku masuk rumah sakit itu baik atau buruk bagiku. Namun yang aku tahu, setelah kejadian itu Ayah semakin berhati-hati dalam bertindak, tidak melulu emosi jika ada sesuatu yang tidak dikehendakinya. Dan yang lebih penting adalah Ayah semakin sayang dan perhatian kepada kami.

Tulang hidungku patah. Aku harus dirawat ke dalam rumah sakit terlebih dahulu. Mungkin, itulah cara Tuhan membentuk pribadi Ayah.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar